Kecerdasan Otak Harus Disertai Hati & Fisik yang Sehat

|

Ilustrasi (Foto : Heru Heryono/Okezone)

Kecerdasan Otak Harus Disertai Hati & Fisik yang Sehat

JAKARTA - Fakta mengungkapkan, kondisi pendidikan di Indonesia masih jauh dari layak. Pengembangan kualitas dasar peserta didik masih kurang intensif sehingga miskin ragam pikir.

Demikian diungkapkan Slamet dalam kuliah umum bagi mahasiswa Program Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar (PPs IHDN) yang digelar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kuliah umum bertema “Strategi Pendidikan dan Pembelajaran” itu dihadiri 120 mahasiswa dan beberapa dosen serta Direktur PPs IHDN.

Slamet menyebut, kualitas dasar seseorang ditentukan berdasarkan 3H, yakni head, heart, dan health. “Kecerdasan otak jika tidak dibarengi dengan hati yang bersih serta fisik yang sehat, tidak akan tercipta manusia yang pintar,” urai Slamet, seperti dilansir Okezone, Rabu (19/6/2013).

Selain itu, lanjutnya, pendidikan saat ini juga lebih mengutamakan kebenaran saja sehingga menghasilkan manusia yang tidak utuh dan kurang bermanfaat. Nilai-nilai kebenaran, religius, moral, sosial, estetikal, dan kinestetikal harus diajarkan pada peserta didik agar kecerdasan mereka seimbang.

Dia menambahkan, praksis-praksis pendidikan saat ini kurang mengajarkan ilmu-ilmu dan teknologi yang dibutuhkan oleh Indonesia. Sehingga generasi penerus bangsa kurang bisa menggali potensi yang ada di negeri ini dan marak importasi barang-barang yang seharusnya bisa dipenuhi sendiri.

"Fakta yang ada saat ini, sekolah-sekolah masih berdaya saing rendah untuk menghadapi era global. Banyak sekolah lamban berubah dan bersifat reaktif, bukan aktif, apalagi proaktif," tegasnya.

Hal tersebut diperparah dengan fakta kondisi pembelajaran di Indonesia dengan cara mengajar guru yang lebih aktif sedangkan siswa pasif. Dengan demikian membuat lemahnya interaksi guru dan siswa sehingga pembelajaran belum mampu menumbuhkan rasa keingintahuan siswa.

"Guru mementingkan jawaban baku yang dianggap benar sehingga pengetahuan siswa kurang berkembang dan pembelajaran masih bersifat transfer of knowledge," urai Slamet.

Menurut Slamet, pendidikan di Indonesia harusnya mampu menuju tuntutan masa depan yaitu, pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang memiliki daya pikir, daya hati, dan daya raga. Selain itu, harus membangun manusia berjati diri Indonesia berdasarkan ideologi Pancasila.

"Pada 2025, masyarakat Indonesia harus berdayasaing internasional dan pendidikan juga harus beragam karena tuntutan daya saing global yaitu, SDM yang berkualitas, teknologi canggih, manajemen global, kewirausahaan, dan global networking," tandasnya.

(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Honda Perkenalkan Motor Trail Terbaru CRF230F