Uang Kiriman Orangtua Tetap di Saat BBM Naik?

|

Nanda Wardanu. (Foto: dok pribadi)

Uang Kiriman Orangtua Tetap di Saat BBM Naik?
PENETAPAN RAPBN-P 2013 pada sidang paripurna Senin 17 Juni lalu oleh DPR RI, berimbas pada kenaikan harga BBM bersubsidi. Harga BBM Premium pada awalnya Rp4.500 akan naik menjadi Rp6.500.

Kenaikan harga Rp2.000 terasa memberatkan bagi masyarakat, tidak menutup kemungkinan para mahasiswa atau mahasiswi karena mereka juga bagian dari masyarakat. Jika harga BBM naik, juga akan berimbas pada kenaikan harga bahan pokok (sembako) dan harga kebutuhan kampus seperti biaya fotokopi materi kuliah.

Sebagai mahasiswa yang cukup berada, untuk memenuhi kebutuhan, bukan masalah besar bagi mereka ketika BBM naik. Mereka hanya perlu bilang kepada orangtua "Pah, Mah, BBM naik, uang kiriman juga dinaikin dong" dan setelahnya uang bulanan akan dikirim lebih banyak dari bulan sebelumnya.

Sampai di situ, masalah sudah selesai. Namun, bagaimana jika orangtua kita berasal dari keluarga serba pas-pasan? Meminta uang lebih pun segan karena dirasa akan memberatkan orangtua kita. Lalu, apa yang harus dilakukan ketika BBM naik dan orangtua tidak dapat memberikan uang kiriman tambahan?

Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk kreatif dan inovatif ketika menghadapi suatu masalah. Jangan hanya meratapi nasib karena kiriman uang bulanan belum bertambah. Ada hikmah yang dapat diambil dari kenaikan harga BBM tetapi uang kiriman orangtua.

Beberapa hal di antaranya adalah mahasiswa dapat mengatur kembali manajemen keuangannya. Bila akhir-akhir ini sering menggunakan uang untuk hal yang kurang perlu seperti jalan-jalan naik kendaraan, sebaiknya hal tersebut dikurangi bahkan dihindari.

Dengan begitu, kita dapat menghemat pengeluaran dan membantu mengurangi kemacetan dijalan. Jika kita lebih inovatif, dapat juga mencari peluang usaha seperti berjualan pulsa, kerja paruh waktu (part time), bahkan berjualan makanan atau alat tulis di kampus.

Dengan begitu, kita dapat melatih jiwa kewirausahaan dan dapat meringankan beban orangtua kita. Belajar hidup prihatin dari sekarang, bukankah ada pepatah yang mengatakan bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian? Semoga bermanfaat.

Nanda Wardanu
Mahasiswa Teknik Pertanian UGM 2011 (ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Danjen Harus Bikin Kopassus Lebih Humanis