Selamat Datang "Tetangga Baru" di KRL Commuter Line

|

Ilustrasi (Foto: dok Okezone)

Selamat Datang

TANGAN Rani terus menutup hidungnya. Sesekali tangannya mengipas-ngipas asap rokok yang mengepul di Stasiun Kereta Api Pondok Ranji, Rabu (3/7/2013). Saat kereta Commuter Line Tanah Abang tiba, dia pun langsung tergesah-gesah masuk ke dalam kereta menuju Stasiun Tanah Abang.

Di dalam Commuter Line, Ibu dua anak itu pun masih menutup hidungnya. “Kereta jadi bau asap rokok,” ujar Rani kepada Okezone.

Rani mengeluhkan buruknya layanan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sejak pemberlakuan tarif progresif kereta Commuter Line. Seperti diketahui, mulai tanggal 1 Juli 2013, tarif Commuter Line mengalami penurunan. Tarif yang diterapkan untuk commuter line, saat ini, ialah Rp2.000 untuk 5 stasiun pertama dan tiap 3 stasiun berikutnya Rp500. Alhasil,penumpang jurusan Pondok Ranji- Tanah Abang yang sebelumnya harus membayar Rp8.000  kini hanya membayar Rp2.000. Sedangkan untuk Jurusan Depok -Jakarta atau sebaliknya, yang biasanya membayar Rp8.000 kini hanya membayar Rp3.500.

Tapi, penurunan harga tiket Commuter Line itu justru membawa sejumlah dampak. Pengurangan jadwal perjalanan kereta ekonomi dan penurunan tarif memunculkan  persoalan baru. Kereta Commuter Line, kini menjadi penuh sesak, lantaran armada Comutter Line tak bertambah. Penumpang yang biasanya naik kereta ekonomi kini beralih ke kereta Commuter Line.

“Sekarang AC-nya enggak sedingin yang dulu. Karena penumpangnya semakin banyak. Lagipula, banyak penumpang ekonomi yang juga naik Comel (Singkatan Commuter Line). Mereka itu tetap melakukan tradisi naik kereta ekonomi, yakni jongkok. Sementara tradisi itu tidak ada di Comel. Bisa dibayangkan ketika penumpang berdesak-desakan, ada penumpang yang jongkok di sebelah Anda. Itu menyulitkan. Kita jadi sulit menjaga keseimbangan saat berdiri di kereta,” ujar Rani.

Rani menuturkan keluh kesahnya. “Penumpang pria di KA Ekonomi biasanya merokok. Nah, di Comuter Line hal itu dilarang.  Tetapi mereka suka merokok di depan pintu Comel. Kalau keretanya mau jalan, mereka baru buru-buru matiin rokok, terus naik. Kereta jadi bau asap rokok,” ungkap karyawan swasta di kawasan Kebon Sirih.

Hal senada juga diungkapkan Yuni, penumpang KRL di stasiun Lenteng Agung. Tingkat kenyamanan KRL Commuter Line juga semakin menurun. “Kereta Commuter Line sekarang sumpek banget. Bahkan, pada hari pertama, Senin kemarin hampir semua gerbong pintunya enggak ketutup. AC-nya enggak jalan,” keluh Yuni.

Belum lagi, kata Yuni, banyak penumpang aneh yang sebelumnya tidak pernah dilihatnya naik kereta. “Agak ngeri juga sih, masalahnya, bukan enggak mungkin pencopet yang marak kaya dulu berulah lagi. Apalagi dalam kondisi kereta penuh kaya gitu, enggak satu pun petugas kereta lewat ngecek tiket,” katanya.

Ibarat sebuah kompleks perumahan, penumpang kelas ekonomi memang seperti "tetangga baru" yang baru pindah. Mereka harus beradaptasi dengan "warga" Commuter Line. Gesekan kecil pun terkadang terjadi antara penumpang Commuter Line dengan "tetangga baru' yang sebelumnya "menetap" di Kereta Api Kelas Ekonomi.

Gesekan kecil itu terjadi seperti saat, ketika, rombongan "tetangga baru" itu membawa rombongannya ke Kereta Commuter Line jurusan Jakarta-Bogor. Mereka pun langsung jongkok di pinggir pintu. Saking penuhnya, seorang penumpang yang sedang menenteng Ponsel Cerdas jenis baru menegur "tetangga barunya" itu. Tapi, penumpang itu justru menolak. Hingga akhirnya, petugas menegur untuk berdiri. Tapi, lagi-lagi, si tetangga baru itu tetap menolak. Petugas pun tidak berani untuk menyuruh mereka untuk berdiri.

Kebiasaan "tetangga baru" itu jongkok dan lesehan di kereta ekonomi itu pun dibawa ke kereta Commuter Line. Bagi, sebagian kalangan, tingkah laku mereka kadang membuat risih. Tapi bagi mereka, hal itu adalah hal yang wajar dan bahkan telah mereka lakukan bertahun-tahun di "rumah" lama mereka. Kereta Ekonomi.

Seorang Pria penumpang Commuter Line yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, sebelumnya dia tidak pernah naik Commuter Line. Selain harganya mahal, Commuter Line identik dengan sebutan kereta "orang-orang kaya". "Mereka cuek-cuek, enakan di ekonomi, rasa kekeluargaannya tinggi, biarpun saya bayar Rp2.000 di kereta ekonomi tapi saya bisa jajan tahu, kacang, sama pedagang keliling, dan makan bareng sama penumpang yang lain, saya beli tahu, yang lain beli minumnya," katanya.

Ketika naik Commuter Line, kata dia, rasa kekeluargaan yang selama ini terjadi di kereta ekonomi pun, tidak bisa dilakukan lagi. "Mau bagaimana lagi, biarpun Commuter Line murah, tapi enggak ada kekeluargaannya," katanya.

Kendati demikian, dia berharap agar PT KAI menambah jumlah gerbong kereta bertambah. "Biar semuanya nyaman, enggak sumpek. Kami juga mau nyaman dan tetap menjalin kekeluargaan," tutupnya.

Dia mengaku, tidak ingin ada gesekan di kereta Commuter Line, karena yang dia inginkan hanyalah menjalin rasa kekeluargaan diantara penumpang kereta. Selamat Datang keluarga Baru di KRL Commuter Line.

(ugo)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    SDA Yakin Muktamar Jakarta Sah