Serda Ucok: Tidak Ada Ancaman saat Sipir Buka Pintu Lapas

|

Sidang kasus Cebongan (Foto: Prabowo/Okezone)

Serda Ucok: Tidak Ada Ancaman saat Sipir Buka Pintu Lapas

YOGYAKARTA - Berkas kedua yang terdapat lima terdakwa kasus penyerangan di Lapas Klas IIB Cebongan, Sleman, kembali menjalani sidang di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, siang tadi.

Kelima terdakwa yakni, Sertu Tri Juanto, Sertu Anjar Rahmanto, Sertu Martinus Roberto Paulus, Sertu Suprapto, dan Sertu Imam Siswoyo.

Tiga saksi dihadirkan dalam sidang yang dipimpin Kepala Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Letkol Faridah Farid. Ketiga saksi di dalam berkas pertama itu merupakan terdakwa kasus yang sama, yakni Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto, dan Koptu Kodik.

Ketiga saksi menyebut tidak ada ancaman saat pertama kali masuk ke pintu masuk Lapas Cebongan. Mereka datang ke lapas mengaku dari Polda DIY dan meminta sidik jari empat korban penembakan.

"Saya pastikan tidak ada ancaman saat pertama kali pintu dibuka," kata Serda Ucok Tigor Simbolon di hadapan majelis hakim Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Selasa (16/7/2013).

Ucok mengaku dari petugas Polda DIY yang meminta sidik jari empat korban atas nama Decky, Deddy, Juan, dan Adi.

"Selamat malam Pak, maaf kami malem-malem menggangu. Kami dari Polda minta sidik jari tahanan Dicky dan kawan-kawannya. Boleh Pak kami masuk?," imbuh Ucok.

Perkataan Ucok itu disampaikan kepada sipir (saksi Indrawan) yang berjaga di depan pintu. Sipir tersebut kemudian membuka pintu portir dan mempersilakan masuk.

Saat itu, Ucok hanya mengenakan sebagian sebo (penutup muka) sehingga jelas terlihat mukanya. Ucok mengaku tidak ada rencana melakukan pembunuhan dengan cara menembak empat korban. Karena mendapat serangan yakni dilempar besi (alat bantu jalan atau krek) oleh salah satu korban (Juan), Ucok pun menembak yang bersangkutan. "Saya diserang terlebih dahulu," jelasnya.

Senada disampaikan Serda Sugeng Sumaryanto. Sugeng menegaskan tidak ada ancaman saat pertama masuk ke Lapas Cebongan, pada Sabtu, 23 Maret 2013. 

"Saya sudah sejak awal mengaku dan siap pempertanggungjawabkan. Saya pastikan saat pintu portir lapas dibuka tidak ada ancaman sama sekali. Tidak ada senjata mengarah ke lubang pintu petugas lapas yang membuka pintu. Kita dibukakan baik-baik," jelas Sugeng.

Sugeng maupun Koptu Kodik mengenakan sebo penutup muka. Keduanya membawa senjata replika AK-47. Sementara Ucok, menenteng senjata asli AK-47. Senjata tersebut dibawa dari lokasi latihan di Gunung Lawu.

"Tidak ada kata-kata 'ngebon' saat kami masuk ke pintu utama. Ucok melakukan dialog dengan petugas lapas, kata-katanya juga sama, 'selamat malam pak, kami dari Polda meminta sidik jari," jelas Sugeng menirukan ucapan Ucok kala itu.

Malam itu, lanjutnya, petugas sipir lainnya (ketua regu jaga lapas) tidak bisa memutuskan apakah memberi izin atau tidak. "Serda Ucok diarahkan untuk bertemu Keamanan Lapas, saya bersamanya dengan dua sipir yang mengantarkan, setelah itu kembali lagi ke pintu," jelasnya.

Mulai dari sinilah, keamanan lapas (Margo Utomo) juga tidak bisa memberikan izin apakah bisa atau tidak. Saat Margo menghubungi Kalapas, Sukamto (kala itu), Ucok merebut telefon genggam milik Margo.

Suasana mendadak berubah saat Ucok menyandera dengan meminta seluruh petugas lapas merunduk. Begitu juga lima terdakwa bergerak cepat seperti dikomando melumpuhkan para petugas lapas.

Koptu Kodik menambahkan, saat itu Ucok masuk ke dalam lapas di Blok A-5 mencari Dicky. Namun, saat teriak mencari yang bersangkutan tidak ketemu.

"Saya dengan Sugeng masuk mengawasi Ucok, kita khawatir yang dicari ini (Dicky) preman berbahaya. Rekan kami di Kopassus saja dibunuh, saya tidak ingin Ucok juga dihabisi," jelas Kodik.

Kodik mengaku hanya 'menyandera' satu petugas lapas yang membawa kunci. Sementara Sugeng, menyandera Kepala Keamanan Lapas, Margo Utomo, menuju ke dalam Blok 5-A Cebongan.

"Setelah ada penembakan, Ucok saya tarik untuk kembali pulang. Kodik berada di belakang saya dan Ucok meninggalkan lapas," imbuh Sugeng.

Saat berada di pintu portal, ketiganya mengaku masih melihat sipir lapas tiarap dengan dijaga di antara lima terdakwa dalam berkas kedua.

"Saya tidak tahu siapa di antara lima terdakwa itu yang menjaga para sipir. Setelah saya pergi, mereka juga pergi mengenakan mobil lain," tambah Sugeng.

Ketiga saksi (Ucok, Sugeng, dan Kodik) menyampaikan, tidak begitu mengenal kelima terdakwa. Mereka hanya mengetahui dua di antara lima terdakwa tersebut.

"Saya hanya tahu terdakwa satu, dan terdakwa empat. Setelah tim investigasi turun pada 30 Maret lalu, kami bertiga mengaku dan mengetahui lima terdakwa," imbuh Sugeng.

(tbn)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Anak ITS Buat BBM dari Buah Bakau