Memaknai Hari Kemerdekaan (di Kampung-Ku)

Aan Herdiana. (Foto: dok pribadi)

Memaknai Hari Kemerdekaan (di Kampung-Ku)
BEBERAPA tahun terakhir, di kampungku, kemeriahan menyambut hari kemerdekaan negeri ini mendadak sunyi senyap. Bukan karena masyarakat tidak antusias (lagi) menyambut hari yang bersejarah ini, tetapi karena momen 17 Agustus beberapa tahun ke belakang bertepatan dengan bulan ramadan.

Dengan alasan puasa, mereka malas-malasan untuk hanya sekadar mengikuti upacara bendera. Tidak ada pula hiasan atau pernak-pernik yang khas ketika Agustusan. Hanya beberapa saja, yang masih mempunyai semangat untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Ya, tidak ada juga lomba makan kerupuk dan lomba panjat pinang, karena memang lagi puasa.

Tetapi di tahun ini, aroma kemeriahan sudah mulai tercium. Bendera merah putih dan umbul-umbul dipasang dengan rapi di pinggir jalan. Tak lupa dengan pernak-pernik warna merah putih.

Selain itu, pagar-pagar di sepanjang jalan pun tidak luput dari perhatian. Semuanya serba merah putih! Untuk lebih menampilkan kesan yang wah, tidak ketinggalan pula menghiasi gapura di gerbang jalan, dengan bertuliskan "Dirgahayu Indonesiaku". Tak pelak semua masyarakat larut dalam kesibukan untuk memeriahkan hari kemerdekaan ini.

Beberapa Nilai

Ada beberapa nilai yang bisa diambil dari kemeriahan menyambut hari kemerdekaan di kampungku. Pertama, ada ruang untuk kreativitas masyarakat. Sebelum upacara dimulai, biasanya seluruh elemen masyarakat, baik dari sekolah ataupun masyarakat umum, mengelilingi lapangan upacara untuk "unjuk gigi".

Mulai dari anak TK dengan kepolosannya menggunakan pakaian polisi, guru, dokter, dan lainnya. Anak-anak SMP dengan gaya yang "kekotaan" menunjukkan keahliannya menabuh drum band. Tidak ketinggalan pula, masyarakat mengelilingi lapangan dengan memainkan angklung, alat musik khas Sunda.

Kedua, nilai kebersamaan yang dibalut dalam kesederhanaan. Sesudah upacara bendera, masyarakat tidak langsung pulang. Tetapi makan bersama dulu di lapangan bersama yang lain. Membuka bekal makanan yang disimpan di sebuah tempat yang bernama "dong-dang", dengan rasa lapar sudah menjangkit, mereka pun dengan lahap memakan bekal makanannya. Tak jarang, berbagi lauk dengan yang lain, atau hanya sebatas tukaran kerupuk. Sungguh momen yang tidak terlupakan dan membahagiakan.

Dengan momentum hari kemerdekaan, sudah seyogyanya kita saling bergandengan tangan dalam kebersamaan untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Berbalut dalam kreasi dan inovasi untuk kemajuan bangsa. Selamat ulang tahun negeriku, jayalah selalu. Merdeka!

Aan Herdiana
Mahasiswa Jurusan Dakwah
Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
STAIN Purwokerto (ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Video Siswi SMP Bercumbu di Hutan Beredar Luas