Lestarikan Atraksi Bantengan Lewat Hajatan

Lestarikan Atraksi Bantengan Lewat Hajatan
SIDOARJO- Semakin lama kesenian tradisional kian pudar seiring masuknya budaya asing yang seolah ikut menjajah budaya Indonesia. Salah satunya kesenian tradisional Bantengan yang semakin hari seolah kekurangan penggemar.
 
Untuk melestarikan kesenian tradisional, warga Desa Kedungwonokerto, Kecamatan Prambon punya kiat khusus. Setiap ada hajatan desa, mereka biasanya mendatangkan kesenian tradisional seperti seni Bantengan di lapangan desa setempat.
 
Kesenian Bantengan ternyata masih banyak menarik perhatian masyarakat. Lebih dari seribu warga pun berjubel untuk menyaksikan kepiawaian para pemain Bantengan pada Minggu malam. Warga berjubel mengelilingi garis pembatas tempat para pemain Bantengan unjuk kebolehan.
 
Tidak hanya warga dewasa baik pria maupun perempuan, anak-anak juga tertarik melihat atraksi Bantengan yang dikenal sudah tumbuh subur di Kabupaten Mojokerto dan Sidoarjo ini. Dalam pertunjukan di Desa Kedungwonokerto, ada dua Bantengan yang berlaga.
 
Masing-masing satu Banteng dimainkan dua orang selama atraksi. Satu pemain menjadi bagian kepala dan kaki depan, sedangkan satu pemain lainnya menjadi ekor dan kaki belakang Banteng. Dalam atraksinya, dua banteng ini menggambarkan sejumlah gerakan dan sikap banteng saat berkelahi. Kadangkala mendengus seraya kakinya mencengkeram tanah.
 
Adapula gerakan banteng saling beradu hingga satu di antaranya menggelepar-gelepar dan jatuh ke tanah. Saat attraksi, umumnya pemain Bantengan sudah kesurupan terlebih dulu. Sehingga gerakan-gerakan yang mereka lakukan sangat mirip dengan Banteng sesungguhnya dan mereka tidak sadar atas gerakan tangan maupun kakinya.
 
Inilah salah satu hal yang menjadi daya tarik kesenian Bantengan tersebut. Apalagi, kala unjuk kebolehan, dua banteng juga disertai dua pemain lainnya yang bertugas mengendalikan sang banteng, yang melengkapi dirinya dengan cambuk. “Ternyata cukup menghibur melihat bantengan. Harusnya kita bisa menghargai tradisi sendiri," ujar Mastani, warga asal Prambon.
 
Saat beratraksi di lapangan, kesenian bantengan bermain selama 30 menit. Durasi ini disesuaikan dengan kondisi orang yang menggerakkan bantengan. Meski demikian, warga tampak puas menyaksikan Bantengan itu.
 
Alunan musik yang berasal dari seperangkat gamelan, atau berupa dua ketipung, terbang jidor dan rebana yang dipukul dengan potongan kayu seolah mengeluarkan kekuatan magis yang membuat pemainnya semakin lincah. “Kita berusaha menghidupkan kesenian Bantengan di Mojokerto dan Sidoarjo. Bagaimanapun kesenian tradisional itu harus dilestarikan," ujar H Rais Saputra, pemain bantengan.
Selain pemain bantengan, H Rais Saputra juga pemilik Kuda Kumbaran, grup seni campursari atau jaranan asal Desa Sumberjati, Mojoanyar, Mojokerto. Selama ini dia sering mendapat undangan di wilayah Mojokerto dan Sidoarjo.
 
Kepala Desa Kedungwonokerto H Urip Heru Cokro mengatakan pihaknya sengaja mendatangkan kesenian Bantengan itu untuk memberikan hiburan gratis bagi warganya dan warga sekitar. "Kita berharap kesenian tradisional tidak terkikis oleh budaya asing. Nah, ini menjadi tanggung jawab kita bersama," ujarnya.
 
Kegiatan mengundang kesenian Bantengan ini juga diharapkan sebagai upaya menghadapi gempuran budaya asing yang sudah menjamah pelosok desa. Kesenian Bantengan ini guna memeriahkan acara pamungkas untuk memperingati HUT ke-68 Kemerdekaan RI. H Urip berharap pagelaran sejumlah kesenian tradisional tetap digelar setiap tahun di Desa Kedungwonokerto meski dirinya nanti tak menjabat lagi sebagai kades.
(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kabinet Molor, Tim Jokowi: Jangan Ngeluh