Kisruh di Kesultanan Ternate Terus Berlanjut

|

Kisruh di Kesultanan Ternate Terus Berlanjut

TERNATE - Kisruh perebutan tahta di Kesultanan Ternate, Maluku Utara, terus berlangsung. Keluarga kesultanan Ternate, masyarakat adat, sejumlah kerabat dan anak Sultan Mudaffar Sjah memprotes penobatan putra kembar sultan Mudafar Syah sebagai Kolano Madoru atau sultan muda. Mereka bahkan mengancam akan melaporkan permaisuri sultan ke Mabes Polri.

Mereka mengaku, penobatan dua anak kembar sultan Mudafar yang baru berusia tiga bulan, yakni Ali Muhammad tajul Mulk Putera Mudafar Syah, dengan gelar kolano maduru, yang dinobatkan sebagai sultan Ternate ke-49, yang akan mengganti Mudafar Syah, serta adik kembarnya Gajah Mada Satria Nagara Putera Mudafar Syah, sebagai sultan muda, adalah bentuk pembohongan publik.

Anak-anak dari sultan sendiri meragukan status putra kembar yang dilahirkan permaisuri Boki Nita Budhi Susanti tersebut. Bahkan mereka meragukan dua bayi kembar tersebut sebagai anak kandung Sultan Mudafar Syah.

Hal ini disampaikan kerabat dan keturunan sultan secara terbuka lewat konferensi pers di Karaton Ici (kediaman keluarga kesultanan) Kelurahan Soa Sio, Ternate, Minggu (22/9/2013) petang.

Hadir dalam jumpa pers tersebut, Syarifudin Djabir Sjah (kakak kandung Sultan Mudaffar Sjah), Hi Effendi Sjah (adik kandung Sultan Mudaffar Sjah) yang juga Kapita Lao pimpinan tinggi armada perang, Farida A Sjah (sepupu Sultan), Dicki Zurahman Sjah (sepupu Sultan Mudaffar Sjah),  Iskandar M jae (Kepala Bangsa Ma Dopolo/Kepala Keluarga) Hi Bab (Imam Ngofa), dan anak-anak sultan masing-masing Soraya M Sjah, Wiriyawati M Sjah, Monalisa M Sjah, dan Nulzuludin M Sjah, serta sejumlah anak cucu lainnya.

Mereka juga menolak wasiat Mudaffar Sjah yang memberikan wewenang penuh kepada permaisurinya Boki Nita Budhi Susanti untuk memegang tampuk kesultanan jika Mudaffar Sjah berhalangan tetap atau mangkat. Pada kesempatan itu, Farida A Sjah putri tertua Mudafar Syah menyampaikan pernyataan sikap yang ditandatangani keluarga besar kesultanan.

Pernyataan sikap tersebut, ada da tiga poin disampaikan yang diberi judul Menyelamatkan Kesultanan Ternate dari Rekayasa. Poin itu antara lain bahwa jabatan kolano adalah sakral, figurnya sebagai tubaddulrasul sehingga selain dituntut kesempurnaan juriat, juga harus menguasai ilmu sebagai alam ma kolano. Dan Kesultanan Ternate hanya menjunjung tinggi seorang kolano, tidak ada sebutan ratu apalagi menjalankan tugas, hak dan kewajiban kolano.

Poin lainnya menegaskan keluarga besar anak cucu Kesultanan Ternate, menolak penyerahan mandat kepada Boki Nitha untuk menggantikan tugas dan tanggung jawab kolano.

Sementara itu, Iskandar M Djae yang didampingi kakak dana adik kandung Sultan Mudaffar Sjah,  menjelaskan proses pemilihan dan penetapan sultan/kolano, dipilih dan diberhentikan melalui rapat dewan Bobato Delapan Belas. “Kesultanan Ternate tidak mengenal putra mahkota dan sebutan ratu, hal ini yang mau kami luruskan,” tegasnya.

Iskandar menambahkan, penunjukkan Boki Nita sebagai pengganti sultan sambil menunggu putra mahkota dewasa sebagaimana tertuang dalam surat wasiat sultan, adalah keputusan yang menyalahi aturan. Pada tahun 1660 sultan ke- 29 Mudaffar I saat diangkat menjadi sultan umurnya baru 15 tahun. Selain itu, dalam kepemimpinannya, dia dibantu 8 bobato yang dikepalai jogugu dan kapita lao.

Sementara Effendi Sjah, meminta kakaknya Mudaffar Sjah mengikuti apa yang telah ditetapkan leluhur mereka. Salah satu anak sultan menambahkan mereka meragukan keabsahan putra kembar yang diangkat menjadi sultan muda, sebab selama ini mereka tak pernah melihat Boki Nita hamil. “Kami minta tes DNA saja. Kami sudah sampaikan kepada Boki agar melakukan tes ini, namun dia marah dan menolak ajakan tersebut,” ujarnya.

Anak sultan lainnya, Nulzuluddin, mengakui keluarga besar mereka tak pernah berdiskusi atau membicarakan siapa yang akan menjadi sultan. Bahkan ia dengan tegas mengancam akan melaporkan istri sultan Boki Nita Susanti ke Mabes Polri karena dinilai melakukan pembohongan terhadap masyarakat Maluku Utara dan Langkah sultan melakukan penobatan sultan muda tersebut dibawa tekanan Boki Nita Susanti.

Diketahui, Sultan Ternate Mudafar Syah sendiri memiliki tujuh anak laki-laki dan empat anak perempuan dari tiga istri yang berbeda. Bersama istinya yang terakhir Boki Nita Susanti Mudafar Syah dikaruniai dua anak perempuan dan dua anak kali-laki kembar.

Sebelumnya, permaisuri Boki Nita Susanti memastikan putranya yang bernama Ali Mohammad mengantikan Mudafar Syah sebagai Sultan Ternate ke-49. Sementara itu, Gajah Mada dipersiapkan menjadi pemimpin yang mengatur pemerintahan di nusantara (Indonesia). “Yang kakaknya (Ali Mohamad) akan menjadi  kolano. Sementara yang adik (Gajah Mada) akan dikirim ke Jawa untuk mengatur sistem pemerintahan berdasarkan Goheba dopolo romdidi,”kata Boki.

Permaisuri juga mengaku langkah cepat itu dilakukan sultan untuk penobatan sultan muda agar tidak menimbulkan perang saudara dikemudian hari. "Kan disolo pernah terjadi perang saudara merebut tahta kekuasaan di kesultanan, jadi di Ternate sendiri harus cepat mengambil langkah-langkah cepat agar tidak seperti di kesultanan Solo, "tambahnya.

(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Penghina Jokowi Sudah Tanda Tangani Surat Penangguhan Penahanan