Sebagian Besar Masyarakat DIY Tak Kenal Caleg 2014

|

Ilustrasi

Sebagian Besar Masyarakat DIY Tak Kenal Caleg 2014
YOGYAKARTA - Pemilu Legislatif akan dihelat pada 9 April tahun depan. Masyarakat di Yogyakarta yang memiliki hak suara banyak yang tidak mengenal calon wakil rakyat yang akan diduduk di kursi empuk, khususnya di DPR RI.

"Tim kami melakukaan survei dengan metode random sampling pada 500 responden yang tersebar di DIY. Kami juga sudah melakukan studi kualiatif pada berbagai lapisan masyarakat," kata Rahmad Pribadi kepada Okezone, Jumat (1/11/2013).

Caleg nomor urut 3 dari Golkar itu menambahkan, sebanyak 47,6 persen responden menyatakan tidak mengenal atau mengetahuinya, dan sisanya 52,4 persen menyatakan mengetahui meski tidak mengenalnya.

Persepsi masyarakat atas kinerja anggota DPR dan DPRD 2009-2014 dari Dapil DIY sebanyak 48,8 persen menyatakan tidak memuaskan, sebanyak 26 persen menyatakan biasa saja, 18,8 persen tidak menjawab, dan hanya 6,4 persen menyatakan memuaskan.

Caleg 2009 yang gagal jadi anggota dewan itu menambahkan, tingkat pengenalan responden kepada anggota DPR dan DPRD 2009-2014 di DIY banyak tidak mengenalnya. Sebanyak 56,6 persen responden tidak mengenal wakil rakyatnya, 21,6 persen menyatakan kenal, dan sisanya 21,8 persen tidak menjawab.

Pengusaha yang terjun di kancah politik itu menyampaikan banyak aspirasi masyarakat tidak tersalurkan. Sehingga, perlu suatu tempat yang mampu menampung aspirasi, pertukaran informasi, dan terbuka bagi seluruh kalangan tanpa harus membeda-bedakan suatu agama, suku, ras, hingga parpol tertentu.

"Kami dirikan 'Omah Paseduluran dan Relawan Paseduluran' sebagai tempat penampung suara masyarakat bawah, menyampaikan ke atas hingga menggalang solidaritas agar suara masyarakat dapat berakhir dalam kebijakan pemerintah yang sesuai kehendak masyarakat," ujarnya.

Rahmad menambahkan, saat ini baru di wilayah Sleman dan Bantul, DIY yang sudah berdiri. Nantinya, tempat-tempat penampung aspirasi itu akan berdiri di dua kabupaten lain yakni Kulonprogo daan Gunungkidul, serta di Kota Yogyakarta.

Ketua Relawan Paseduluran Sleman, Mardiyono, menyampaikan, tempat penampung aspirasi itu terus dirawat meski pemilu 2014 selesai. Tempat tersebut sebagai 'ruang' menyampaikan gagasan, ide, serta pikiran dari berbagai lapisan masyarakat tanpa membedakan kaum minoritas tertentu.

"Tempat ini terbuka, siapapun bisa dia berdiskusi, berdialog, menyampaikan apa yang menjadi jeritan masyarakat agar didengar pemerintah, dan pemangku kebijakan," jelas Mardiyono. (ris)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Bule Korban Pembunuhan 'Dijenguk' Putranya dari Australia