Aksi Pungut Sampah Komunitas Jakarta Osoji Club

Ilustrasi bersih-bersih sampah. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

Ilustrasi bersih-bersih sampah. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

APA kamu masih suka buang sampah sembarangan? Kalau iya, malu deh dengan kumpulan orang asing yang tergabung di komunitas Jakarta Osoji Club. Soalnya, mereka yang jelas-jelas bukan orang Indonesia saja peduli dengan banyaknya sampah di Jakarta.

Kepedulian itu ditunjukkan dengan rutin menggelar aksi memungut sampah di kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Nah, keren kan? Jakarta Osoji Club, yang berarti "bersih-bersih Jakarta", dikomandoi oleh Tsuyoshi Ashida.

Warga negara Jepang ini sudah tinggal selama empat tahun di Jakarta. Selama itu, dia melihat gaya hidup warga Jakarta yang masih jorok alias senang membuang sampah sembarangan. Akibatnya, sampah berserakan, kota menjadi kotor. Tsuyoshi lalu berinisiatif mengajak teman-temannya untuk melakukan gerakan bersih-bersih sebagai bentuk kepedulian lingkungan.

"Saya ingin menanamkan kesadaran kepada masyarakat Indonesia untuk buang sampah di tempatnya," kata Tsuyoshi saat diundang menjadi pembicara di seminar "Langkah Menuju Kota yang Bersih seperti di Jepang", yang menjadi rangkaian acara festival kebudayaan Jepang, Jiyuu Matsuni, di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Komunitas yang terbentuk pada 27 April 2012 ini rutin menggelar acara bersih-bersih tiap dua pekan sekali. Dengan kostum kaus hijau, topi, sarung tangan, alat pencapit sampah, dan plastik, gampang banget mengenali anggota komunitas ini.

Belum lagi yang menjadi anggota juga berasal dari banyak negara, enggak hanya orang Jepang dan orang bule, juga orang Indonesia. Yakata dari Jepang adalah salah satu anggota Jakarta Osoji Club.

Selama di Jakarta, Yakata tinggal di apartemen. Dia tertarik dengan gerakan bersih-bersih dari komunitas ini. Menurut Yakata, peduli terhadap kebersihan lingkungan sama seperti peduli terhadap tubuh.

"Kalau cuaca panas, tubuh pasti mengeluarkan keringat dan rasanya ingin segera mandi untuk membersihkan badan. Sama kalau kita melihat sampah di jalan, rasanya ingin segera memungutnya dan membuangnya ke tempat sampah," kata Yakata dalam bahasa Inggris.

Memang karena anggotanya dari berbagai negara, anggota bebas berbicara dalam bahasa apa pun. Kebanyakan bahasa yang digunakan memang bahasa Inggris, tapi Tsuyoshi bisa berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jadi enggak usah khawatir dengan kendala bahasa.

Kembali ke soal kebersihan, kalau kata Tsuyoshi, kota yang bersih tidak hanya di Jepang. Ada banyak kota di dunia yang mulai berbenah supaya kotanya menjadi bersih. Tsuyoshi lalu menunjukkan cerita bergambar seperti wayang berjudul "Raksasa Sampah". Isi cerita tersebut sederhana, yaitu tentang raksasa sampah yang muncul di sebuah kota karena warganya malas untuk membersihkan kotanya sendiri.

Cerita ini dibuat sederhana karena sasarannya anak-anak Masih kata Tsuyoshi, enggak perlu mengeluarkan uang berjuta-juta untuk membuat kota yang bersih. Cukup dengan tiga hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, malu buang sampah sembarangan. Kedua, buang sampah di tempatnya. Ketiga, kurangi penggunaan plastik dan sejenisnya yang susah diurai di dalam tanah. Gampang kan? Pokoknya yang paling penting, kesadaran dari diri sendiri untuk menjaga kota tetap bersih.

Nah, kalau teman-teman tertarik ikut komunitas ini, tinggal datang langsung saja pas acara bersih-bersih. Silakan bawa sarung tangan sendiri. Kalau orang asing saja peduli terhadap kebersihan Jakarta, malu dong kalau kita enggak peduli! (Oktiani Endarwati)

(ade)
Live Streaming
Logo
breaking news x