Image

Dosen ITS Ubah Musibah Jadi Berkah

Ilustrasi: Maket lumpur Lapindo. (Foto: dok. Okezone)

Ilustrasi: Maket lumpur Lapindo. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Di balik musibah selalu ada berkah tersembunyi. Demikian pula dengan lumpur Lapindo yang melanda Sidoarjo, Jawa Timur. Di tangan Lukman Noerochim dan Amien Widodo, lumpur panas tersebut disulap menjadi baterai lithium.

Hal itu dilakukan dengan menggunakan sebuah alat pengekstraksi Lithium yang mereka ciptakan sendiri. Karya tersebut ternyata sukses menarik perhatian para pejabat teras negeri ini. Bahkan, akhir tahun lalu, mereka diminta untuk melakukan presentasi di Kompleks Sekretariat Negara, Jakarta.

Ide untuk melakukan riset terkait lumpur panas Sidoarjo berawal dari Amien Widodo yang menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Bencana ITS. Dia menginginkan adanya kebermanfaatan dari semburan lumpur panas Sidoarjo yang masih belum berhenti sampai sekarang.

Untuk merealisasikan keinginan tersebut, dia pun mengajak Lukman Noerochim sebagai partner risetnya. "Saya pun tertarik untuk ikut meneliti,'' ujar Lukman yang merupakan dosen Jurusan Teknik Material dan Metalurgi ITS itu, seperti dinukil dari ITS Online, Selasa (7/1/2014).

Lukman menjelaskan, setelah beberapa kali melakukan pengujian, mereka menemukan sesuatu yang menarik dalam komponen penyusun lumpur panas Sidoarjo yang memiliki kandungan Lithium 70 kali lebih besar dibandingkan dengan yang biasa ditemukan di air laut. "Kandungan lithium pada lumpur ini benar-benar bisa kita manfaatkan,'' ungkapnya.

Hal itu kemudian menginspirasi keduanya untuk menciptakan sebuah alat pengekstraksi lithium. Alat tersebut berupa membran yang mampu mengekstrak dan mengolah kandungan lithium pada lumpur. Hasil estrakan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai katoda untuk pembuatan baterai.

Dia mengungkap, sistem kerja dari membran itu cukup sederhana. "Alat yang mengandung Lithium-Mangan-Dioksida tersebut hanya tinggal dicelupkan ke dalam lumpur. Kemudian, membran akan bekerja secara otomatis menyerap kandungan lithium yang ada pada lumpur," papar Lukman.

Rencananya, pada 2014, penelitian akan dilanjutkan menuju arah produksi baterai lithium siap pakai mengingat konsumsi baterai lithium cukup besar. Apalagi, masyarakat Indonesia juga masih belum mandiri dalam hal pembuatannya.

"Sebuah potensi besar dari hasil penelitian terhadap lumpur Sidoarjo ini. Sudah waktunya Indonesia mandiri,'' imbuhnya.

Menurut Lukman, penelitian itu memang ditujukan untuk mencari nilai guna dari lumpur panas Sidoarjo. Akan tetapi, maksud lain yang tidak kalah penting ialah mengajak pihak-pihak tertentu untuk memikirkan solusi tepat atas musibah yang menimpa masyarakat Sidoarjo tersebut.

"Penelitian ini kami harap bisa memicu pihak lain untuk ikut menyelesaian masalah lumpur Sidoarjo dengan segera,'' tutur Lukman.

(rfa)
Live Streaming
Logo
breaking news x