Bercumbu di Warnet, Sepasang Kekasih Diciduk Polisi Syariah

BANDA ACEH - Polisi syariah atau Wilayatul Hisbah (WH) menciduk sepasang kekasih atas dugaan bercumbu di sebuah warung internet di kawasan Batoh, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh. Perbuatan pasangan non-muhrim itu diduga melanggar qanun (perda) syariat Islam.

Penangkapan pria berinisial DR (20) warga Aceh Jaya dengan pasangannya RA (21) asal Aceh Besar, berawal dari razia dilakukan Satpol PP dan WH untuk mencari siswa-siswa yang bolos sekolah. Mereka menyisir warnet dan warung rental play station yang ada.

"Saat masuk ke warnet itu, kami tidak menemukan pelajar tapi kami melihat keduanya sedang berdua-duaan, saling pelukan meraba-raba di bilik warnet yang disekat," kata Kepala Seksi Penyidikan Kantor Satpol PP dan WH Provinsi Aceh, Marzuki M Ali di Banda Aceh, Rabu (19/3/2014).

Kedua muda-mudi itu, lanjutnya, sontak kaget ketika bilik warnet yang mereka pakai didekatin petugas. "Apa salah kami," ujarnya meniru ucapan pelaku. "Padahal petugas sempat melihat keduanya meraba-raba sebelum didekati," sambung Marzuki.

Kedua pelaku yang ditangkap sekira pukul 10.00 WIB tadi, kemudian diboyong petugas ke Kantor Satpol PP dan WH Aceh di Jalan Teuku Nyak Arif Banda Aceh, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Sementara pemilik warnet ditegur agar mengubah sekat bilik warnet, sehingga aktivitas pelanggannya bisa terpantau dan tak disalah gunakan.

"Semua warnet sudah kami imbau agar jangan membuat sekat yang tertutup seluruh badan penggunanya, cukup setengah saja sehingga tidak berpotensi disalah gunakan," sebutnya.

Kepada petugas kedua pelaku mengaku sudah tujuh bulan pacaran dan membantah bermesum. "Kami hanya browsing, buka facebook," ujar salah seorang pelaku.

Marzuki menyebutkan perbuatan kedua pelaku dinilai melanggar qanun syariat Islam nomor 14 tahun 2003 tentang khalwat atau mesum. Tapi pihaknya tak langsung menvonis keduanya melanggar karena hingga kini masih berlangsung pemeriksaan.

Dalam dua bulan terakhir, polisi syariah Aceh mengaku sudah menangani 60 dugaan kasus mesum di Banda Aceh dan Aceh Besar, namun semua kasus tersebut diselesaikan lewat pembinaan tanpa ada yang dilimpahkan ke pengadilan.

Marzuki beralasan minimnya saksi-saksi untuk pembuktian dari setiap kasus yang ditangani serta belum adanya regulasi yang kuat untuk menahan pelaku mesum lewat dari 1x24 jam, membuat pihaknya banyak menyelesaikan kasus itu lewat pembinaan. "Dengan harapan tidak terulang lagi kesalahan yang sama," ujarnya.
(ris)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

breaking news

x