Cerita AM Fatwa Jadi Tahanan Cipinang ke Senayan

AM Fatwa (Foto: Okezone)

AM Fatwa (Foto: Okezone)

JAKARTA - Siapa yang tak kenal sosok AM. Fatwa, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan 1939 itu dikenal karena keberanianya melawan rezim orde lama dan orde baru.

Tak senang dengan kebijakan pemerintah, tak segan-segan dia mengerahkan ratusan mahasiswa untuk turun ke jalan melakukan aksi demontrasi. Perbuatanya tersebut banyak tak disenangi para pejabat, hingga akhirnya Fatwa harus merasakan dinginnya tahanan selama 18 tahun. Hingga akhirnya dia mendapat remisi ketika rezim reformasi bergulir yang kala itu dipimpin Presiden Baharudin Jusuf Habibie.

Bagaimana cerita Fatwa merasakan pahitnya menjalani kehidupan sebagai aktifis kampus yang kerap diteror dan diikuti para intel di dua rezim kala itu, berikut petikan wawancara dengan Fatwa saat berkunjung ke kantor redaksi Okezone, Senin (24/2/2014):

Bagaimana ceritanya Anda bisa menjalani tahanan 18 tahun penjara?

Saya dulu ketua senat di kampus, saya juga ketua PBHMI. Saya sering mengerahkan mahasiswa untuk demo menentang kebijakan yang kita anggap tidak benar. Bahkan kami mahasiswa harus patungan uang untuk membayar sewa truk tiap kali demo.

Saya tumbuh dan dididik dari pemimpin atau tokoh-tokoh lama terdahulu. Saya bergaul dengan tokoh-tokoh di Petisi 55, saya termasuk orang muda di sana.

Saya sering memimpin demo, sampai akhirnya tahun 1963 saya ditahan. Saat itu saya mengkritik menteri di Kementrian Agama yang menurut saya kurang baik dan perlu reformasi. Sampai akhirnya saya dibuang ke Jawa Tengah. Anda bisa bayangkan ketika saya mahasiswa saya justru dibuang.

Tapi kala itu saya tidak mengalami penyiksaan, saya diinapkan disebuah mess Polri di daerah Tawangmangu, kemudian pindah ke Solo, Karanganyar.

Bagaimana reaksi orangtua Anda kala itu mendengar anaknya ditahan dan juga dibuang ke daerah?

Tentu mereka mendengar itu sedih, tentu ini hal yang tak diinginkan. Saya ini orang rantau, jauh dari orangtua, di luar kontrol orang tua jadi saya bebas. Tetapi saya tetap mempertanggungjawabkan perbuatan saya. Demo adalah bagian dari demokrasi, harus dipelihara.

Anda sudah merasakan menjadi anggota DPR, MPR, DPD juga menjadi staf khusus diberbagai lembaga pemerintah. Apakah ada perbedaan AM Fatwa dulu yang "garang" dengan AM Fatwa saat ini?

Dulu memang perjuangan saya di bawah, sekarang saya merasakan di atas ada sistem yang mengatur. Ibarat pertandingan tinju ada ringnya. Insya Allah 14 tahun saya duduk di Senayan, saya masih tetap seperti yang dulu. Cuma bedanya saya tidak lagi teriak-teriak di jalan. Dulu saya melawan kebijakan penjualan Indosat sampai memanjat pagar, sekarang tidak lagi.

Saya dapat rekor MURI sebagai senator yang paling tinggi berkirim surat kepada presiden. 12 kali saya berkirim surat. Saya politisi yang memulai dari LP Cipinang lalu ke Senayan, sementara teman-teman saya dari Senayan ke Cipinang.

Apa saja yang pernah Anda alami dengan kenekatan dan keberanian yang Anda lakukan?

Banyak sekali, salah satunya saya pernah 20 tahun dipecat dari pegawai negeri sipil, lalu kemudian direhabilitasi. Waktu itu saya dituntut hukuman seumur hidup penjara, lalu kemudian divonis 18 tahun. Saya menjalani tahanan selama sembilan tahun, tiga tahun saya bebas bersyarat, tapi tetap demo waktu itu. Tidak melemahkan semangat untuk demo. Jadi masih tahanan luar, tetap demo.

Saya dapat amnesti dari Presiden Habibie, kalau reformasi tidak menang saya masih menjalani tahanan, bahkan bisa masuk bui lagi.
(sus)
berikan komentar anda Lakukan Login untuk Komentar tanpa moderasi.
0 komentardisclaimer
breaking news x