Bupati Buton Ngaku Diperas & Diteror Akil

Akil Mochtar (Foto: Dok. Okezone)

Akil Mochtar (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA- Sepak terjang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar dalam memainkan perkara penanganan sengketa Pilkada di MK kembali terkuak.

 

Dalam kesaksiannya di persidangan, Bupati Buton, Sulawesi Tenggara, Samsu Umar Badul Samiun mengaku "diperas" oleh Akil saat mengajukan gugatan sengketa Pilkada Buton di MK.

 

Ketika itu, Samsu bersama pasangannya, La Bakry, serta dua pasangan lainnya mengajukan gugatan hasil rekapitulasi suara KPUD Buton, yang dimenangkan pasangan Agus Feisal Hidayat dan Ya Udu Salam Ajo.

 

Hasil gugatan itu, ternyata membatalkan kemenangan pasangan terpilih, Agus dan Ya Udu, di mana putusan MK memerintahkan agar dilakukan pemungutan dan penghitungan suara ulang. Hingga akhirnya MK memutuskan pasangan Samsu dan Ya Udu sebagai pemenang.

 

"Tapi keterangan dari Pak Arbab yang dapat informasi dari Pak Anwar, bahwa kemenangannya itu akan dianulir MK. Yang akan menganulir itu Pak Akil," kata Samsu di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (3/4/2014).

 

Pengacara Arbab Paproeka, kemudian mengatakan kepada dirinya kalau Akil meminta disediakan Rp6 miliar bila tidak ingin dianulir. Atas permintaan itu, ia mengaku merasa terancam. "Saya tertekan sekaligus dongkol juga, padahal MK memenangkan saya sesuai fakta persidangan. Tapi saya merasa tertekan," tandasnya.

 

Merasa kawatir keterpilihannya dianulir oleh MK, Samsu akhirnya menuruti untuk memberikan uang kepada Akil, di mana setelah sebelumnya Arbab menyerahkan nomor rekening Mandiri milik CV Ratu Samagat yang tak lain perusahaan milik istri Akil, Ratu Rita, yang ditulis untuk uang muka batu bara.

 

Uang yang ditransfer ke Akil, kala itu hanya Rp1 miliar lantaran ia tidak memiliki uang sebesar Rp6 miliar.

 

Merasa uang yang dikirim tidak sesuai permintaan, Akil terus meneror Samsu dengan mengirim berbagai pesan singkat melalui telepon seluler. Di mana, isinya terus mengancam akan membawa kembali perkara sengketa Pilkada Buton ke MK, satu minggu setelah putusan dibacakan.

 

"Saya terima SMS, isinya "kapan Anda akan selesaikan sisanya, kalau Anda tidak selesaikan maka 'tidak ada 'jaminan'. Anda akan ketemu saya di sini, tertulis Akil Mochtar," ujar Samsu.

 

SMS serupa kerap diterima Samsu, hingga akhirnya ia merasa terancam dan memutuskan untuk mengganti nomor telepon, hingga tidak terjalin lagi komunikasi.

(sus)
breaking news x