KKN, Jangan Beri Ikan Tapi Pancing

Koordinator Program Community Development (Comdev) Prasetya Mulya Business School (PBMS) M Setiawan Kusmulyono. (Foto: Margaret Puspitarini/Okezone)

Koordinator Program Community Development (Comdev) Prasetya Mulya Business School (PBMS) M Setiawan Kusmulyono. (Foto: Margaret Puspitarini/Okezone)

JAKARTA - Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan program kampus yang melibatkan para mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat dan menyelesaikan persoalan di sekitar mereka. Sayang, program tersebut ternyata meninggalkan trauma tersendiri di hati warga.

Menurut Koordinator Program Community Development (Comdev) Prasetya Mulya Business School (PBMS) M Setiawan Kusmulyono, trauma yang dimaksud berupa ketakutan warga jika mahasiswa hanya memberikan program dan solusi yang bersifat instan. Sehingga, kata Keli -begitu panggilan akrabnya- ketika mereka menyelesaikan program tersebut, warga akan kembali terbengkalai.

"Sering kali, KKN itu habis jadi ditinggal. Jadi beberapa kali ketika kami meminta kesediaan warga untuk program Comdev (sebutan KKN di PMBS) pun ditolak. Mereka (para mahasiswa dalam program KKN) hanya memberikan ikan bukan pancing," ujar Keli, dalam Media Gathering PMBS 2014, di Penang Bistro, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (22/4/2014).

Untuk itu, dia menjamin jika Comdev PMBS tidak akan seperti itu. Guna merrevitalisasi program KKN, program Comdev tidak akan berlangsung selama satu bulan melainkan delapan bulan.

"Dua bulan pertama kami survei dan petakan dulu warga yang akan diajak menjadi mitra Comdev. Kemudian, selama satu bulan, mahasiswa akan tinggal di desa tersebut bersama warga. Setelah itu, selama lima bulan, mahasiswa harus terus memantau keberlanjutan bisnis yang telah dibangun bersama mitra dalam bentuk laporan," jelasnya.

Keli mengaku, bukan perkara mudah menentukan mitra Comdev. Apalagi, lanjutnya, sistem pemilihan rumah warga bukan berdasarkan sewa tapi komitmen warga tersebut untuk berkembang dan menjadi orangtua asuh.

"Sulit cari mitra. Cari di 150 rumah, ketok satu per satu, hanya dapat 58 mitra. Sistem kami bukan sewa rumah. Bukan mencari mitra yang hanya melihat uang tapi mau berkembang. Mereka juga harus mampu jadi orangtua asuh. Karena untuk mengizinkan satu kelompok yang terdiri dari wanita dan laki-laki tinggal bersama adalah masalah sensitif," tutur Keli.

Tidak hanya itu, dia menyatakan, terdapat beberapa faktor lain yang membuat PMBS kesulitan menemukan mitra. Latar belakang pendidikan warga maupun budaya yang melekat dalam diri mereka menjadi alasan sulitnya menemukan mitra.

"Latar belakang mitra karena kebanyakan lulusan SD. Jadi, bukan kekayaan atau pendidikan yang kami jadikan tolok ukur tapi motivasi. Kemudian, budaya kehidupan instan yang maunya langsung untung besar. Selanjutnya, ketidakdisiplinan. Tidak ada pembukuan yang jelas sehingga mereka membelanjakan keuntungan yang diperoleh tanpa sisa. Terakhir, lingkungan sosial. Kebanyakan warga desa justru merasa iri jika melihat warga lain sukses. Ini jadi menghambat perkembangan warga," tutupnya.

(ade)
Live Streaming
Logo
breaking news x