Image

Indonesia Bisa Ajarkan Toleransi ke Eropa demi Cegah Islamophobia

Ilustrasi: Reuters

Ilustrasi: Reuters

MALANG – Islamophobia muncul di mana-mana bak jamur di musim hujan. Baik di Eropa dan Amerika Serikat, umat muslim serta-merta dicap ISIS pasca-teror Paris beberapa waktu lalu yang menewaskan lebih dari 129 orang.

Padahal tindakan terorisme, baik itu yang dilakukan ISIS serta Al Qaeda beserta jaringan-jaringan mereka, sama sekali tak mencerminkan Islam sebagai Rahmatan Lil’Alamin.

Gencarnya Islamophobia di negara-negara Barat juga jadi keprihatinan tersendiri buat akademisi, macam Dr. Michael Privot yang mengerti tentang Islam yang autentik, di mana Islam tak mengajarkan kekerasan.

Privot, Direktur European Network against Racism di Belgia menyatakan dalam dalam International Conference of Islamic Scholars (ICIS) keempat di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur, bahwa ulama punya peran penting untuk mempromosikan Islam yang sebenarnya.

Privot juga menyatakan Indonesia sebagai negara demokrasi dengan warga muslim terbesar di dunia, bisa jadi contoh yang baik soal bagaimana hidup bertoleransi. Bahkan Indonesia bisa mengajarkan kepada dunia, untuk hidup berdampingan tanpa ada kecurigaan yang merujuk Islamophobia.

“Langkah yang bisa diambil untuk mengatasi Islamophobia, antara lain mendorong Indonesia berbagi pengalaman dalam penerapan Islam moderat,” ujar Privot, seperti rilis yang diterima Okezone.

“Begitu juga (berbagi) toleransi beragama di Indonesia ke seluruh dunia, terutama negara-negara di Eropa, serta menguatkan jaringan ulama dari berbagai kawasan, termasuk Eropa,” tambahnya.

(raw)
Live Streaming
Logo
breaking news x