facebook pixel

Diuji Ekstrem, Baterai untuk Skuter Listrik GESITS Direndam di Air

Baterai untuk sukuer listrik GESITS diuji secara ekstrem di air (Foto: Okezone)

Baterai untuk sukuer listrik GESITS diuji secara ekstrem di air (Foto: Okezone)

JAKARTA - Salah satu komponen penting dari skuter listrik GESITS (Garansindo Electric Scooter ITS) adalah baterai. Bahkan, Garansindo menggandeng dua kampus negeri lain, selain ITS, untuk secara khusus mengembangkan teknologi sel baterai serta daur ulangnya.

Dengan begitu, diharapkan ke depannya skuter listrik GESITS tidak akan bergantung lagi dengan sel baterai produksi luar, seperti Panasonic atau Samsung. Meski dikembangkan oleh anak bangsa, bukan berarti baterai tersebut kalah canggih dengan produk luar.

CEO Garansindo Group Muhammad Al Abdullah mengatakan, baterai untuk GESITS menjalani pengujian ekstrem, yakni dimasukkan ke air untuk mengetahui daya tahannya. Tentunya baterai tersebut sudah ditutup dengan seal. Pengujian dalam air ini menyesuaikan dengan kondisi jalan di Indonesia yang rutin mengalami banjir.

"Baterai kami sekarang sedang diuji, direndam baterainya di air, mati atau tidak. Kan enggak pakai hap, motornya pakai belt. Kami sedang genjot lagi agar baterainya waterproof. Untuk selnya kami masih kami impor dari Panasonic, kalau box modul-nya sejak awal sudah ada," kata Muhammad Al Abdullah, belum lama ini.

Untuk pengembangan sel baterai, pihaknya menggandeng universitas negeri yang namanya belum bisa disebutkan saat ini. “Mereka sudah mengembangkan sel baterai lithium-ion. Kami push mereka agar lebih cepat," tambah pria yang akrab disapa Memet itu.

Kampus kedua, lanjut Memet, mengembangkan teknologi daur ulang baterai. Hal ini penting karena limbah baterai merupakan permasalahan klasik pada kendaraan listrik.

“Ini lebih dahsyat lagi, satu kampus lagi menyiapkan recycle baterai. Sehingga pada saat launching nanti, tiga kekhawatiran pada motor listrik bisa terjawab," ungkap Memet.

Soal daur ulang, kata dia, nantinya baterai yang sudah habis masa pakainya yakni lima tahun bisa digunakan lagi. Saat ini hasil pengembangan dari kampus tersebut, 90 persen sel baterai masih bisa digunakan setelah pemakaian lima tahun.

“Kan usia baterainya lima tahun. Artinya dalam lima tahun daya pakainya berkurang 80, 60, 50. Kalau di-recycle, saat ini mereka (kampus) sudah mampu sampai 90 persen. Buat saya itu sudah cukup sebenarnya, tapi mereka masih mau naik lagi. Banyangkan, setelah dipakai lima tahun yang kebuang cuma 10 persen. Itu kan sudah besar banget," pungkas Memet.

(ton)