Menakar Pergeseran Perilaku Pemilih

Ilustrasi Pemilihan Umum (foto: Antara)

Ilustrasi Pemilihan Umum (foto: Antara)

OPINI- Saiful Mujani Research and Colsulting (SMRC) merilis hasil survei terbarunya tentang sejumlah figur potensial yang bakal menjadi pesaing utama Jokowi pada gelaran pilpres 2019.

Di antara figur tersebut yakni Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan sosok baru seperti Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo, Gubernur DKI Jakarta Basuka Tjahaja Purnama atau Ahok, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Dalam survei itu disebutkan bahwa Prabowo Subianto masih menjadi pesaing terberat Jokowi. Sementara SBY meski namanya bercokol diurutan ketiga diragukan maju dalam pilpres mendatang. Sedangkan posisi keempat ditempati oleh Hary Tanoe yang akan dipilih publik jika pilpres diadakan saat ini.

Sosok Hary Tanoe tentu menjadi fenomena dan debutan baru, karena mampu mengungguli sejumlah figur beken yang lagi naik daun seperti Ahok, Risma, Ridwan Kamil, dan Ganjar Pranowo dan politisi senior seperti Megawati Soekarno Putri, M Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Wiranto, dan Surya Paloh.

Dia menambahkan, dalam konteks Hary Tanoe yang menempati posisi keempat top of mind, hasil survei SMRC mengindikasikan sejumlah hal terkait perubahan perilaku pemilih.

Satu hal yang pasti, pemilih mulai meninggalkan pola-pola tradisional yang lebih berorientasi pada kedekatan suku, agama, dan faktor primoldial lainnya berubah menjadi pemilih yg lebih modern dan maju mengingat Hary Tanoe berasal dari etnis dan agama yang minoritas di negeri ini.

Publik tak lagi menjadikan agama dan etnis sebagai parameter dominan dalam memilih dan mendukung seorang kandidat. Publik kian kritis melabuhkan pilihan hatinya pada sang calon. Sebab itu, profil calon menjadi ukuran signifikan bagi pemilih.

Dalam ilmu politikdikenal tiga aliran utama yang kerap dijadikan pisau analisa untuk membedah dan memhami perilaku pemilih (political behavior).

Pertama aliran sosiologis. Pendekatan ini memotret perilaku pemilih yang lebih berorientasi sosiologis seperti kedekatan agama, etnis, keturunan, kelas sosial, umur dan faktor sosiologis lainnya. Aliran ini banyak mendapat kritik krn cenderung menafikan aspek kapasitas dan kompetensi calon.

Kedua aliran psikologis. Pendekatan ini memperkenalkan apa yg disebut sebagai budaya politi (civic culture) pemilih. Menurut aliran ini, seorang warga memilih seorang calon karena memiliki perasaan dekat terhadap kandidat (atau partai politik), mempunyai informasi lebih tentang calon serta yakin pilihannya akan memperbaiki keadaan (political efficacy).

Ketiga aliran rasional (rational choice) yang dipopulerkan oleh Mancur Olson dan Anthony Downs. Aliran ini menjelaskan alasan seseorang memilih kandidat berdasarkan untung dan rugi. Yang dimaksud rasional dalam pendekatan ini adalah apa yang didapat seseorang jika memilih sang calon atau terlibat dalam politik. Orientasi utamanya adalah keuntungan pribadi. Pendekatan ini lebih cocok untuk menjelaskan kenapa pemilih cenderung apatis dan golput.

Menilik tiga aliran di atas, cukup bs difahami mengapa sosok Hary Tanoe bisa cukup dominan dalam hasil hasil survei SMRC. Publik tak lagi menjadikan alasan agama, etnis, dan kedekatan sosilogis lainnya sebagai barometer utama dalam menentukan tambatam hati terhadap kandidat dan partai politik.

Sebaliknya, dalam konteks demokrasi modern, pemilih lebih cenderung kandidat disebabkan karena pengetahunnya terhadapsang calon atau partai politik tertentu. Sebab itu, basis kognitif pemilih tak lagi dijejali oleh faktor yg tak rasional seperi alasan agama dan etnis.

Intensitas Hary Tanoe yang aktif menyapa rakyat serta bangunan komunikasi politik dengan basis massa heterogen membuat Ketua Umum Perindo ini makin dikenal luas oleh publik. Begitupun dengan sosialisasi massif melalui media massa makin membuat Hary Tanoe digandrungi khalayak ramai.

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu dibaca dari hasil survei SMRC. Pertama, publik membutuhkan figur alternatif di tengah figur-figur lama yang dianggap tak solutif. Publik ingin sosok baru lebih fresh dan menjanjikan.

Kedua, sosok Hary Tanoe berpotensi menjadi rising star dalam pagelaran Pilpres 2019 di tengah pemilih yang cair tanpa ikatan ideologi apapun. Jika terus konsisten dengan strategi politiknya, bukan mustahil popularitas, likelabilitas (kesukaan), dan elektabilitas Hary Tanoe terus menanjak.

Sedangkan yang ketiga, publik mulai merasa kenal, akrab, dan menaruh harapan pada sosok seperti Hary Tanoe untuk melakukan perubahan fundamental di republik ini.

Meski begitu, politik tak bergerak linear, fluktuatif, dan kerap berubah setiap saat tanpa bs dikendalikan siapapun. Sebab itu, sikap konsisten dengan konsep perkuangan yang matang dan terukur menjadi faktor penentu di tangah migrasi pemilih yang dinamis.

Penulis: *Adi Prayitno. *Dosen Politik Universitas Islam Negeri  (UIN) dan Peneliti The Political Literacy Institute

(uky)
Live Streaming
Logo
breaking news x