Kisah Haji Nunut Mewujudkan Mimpi ke Tanah Suci

Choirun Nasichin (52) dijuluki haji nunut asal Jombang (Zen Arivin/Okezone)

Choirun Nasichin (52) dijuluki haji nunut asal Jombang (Zen Arivin/Okezone)

JOMBANG - Menunaikan ibadah haji merupakan impian setiap muslim. Namun, mahalnya biaya berangkat ke Tanah Suci membuat sebagian orang sulit mewujudkan keinginannya menunaikan rukun islam kelima itu.

Namun, bagi Choirun Nasichin (52) tekat serta ketaatannya kepada Tuhan membawanya hingga ke Tanah Suci. Impian pergi ke rumah Allah itu pun dilaluinya tanpa syarat.

Senyum hangat menyambut kedatangan awak media saat menyambangi Choirun di rumahnya Dusun Ngrumek, Desa Nglele, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Tmur. Ia tinggal di rumah berukuran 5x8 meter persegi itu.

”Mari mas, silahkan masuk,” Choirun mempersilahkan para pewarta masuk ke rumahnya, Mingggu (7/8/2016).

Ia pun berkisah tentang hidupnya. Choirun terlahir dari keluarga sederhana. Jangankan ongkos naik haji yang mencapai Rp6 juta waktu itu, untuk makan sehari-hari saja keluarganya pas-pasan. Ayahnya hanya buruh tani, sedangkan ibunya berjualan peracangan rokok dan es.

Dari kecil, Choirun telah mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya. Di musala samping rumah yang dibangun sejak 1946, Choirun kerap diajari tentang agama oleh orangtuanya.

Seiring pemahamannya tentang agama tumbuh, keyakinannya untuk menunaikan ibadah haji pun menguat. Anak kedua dari enam bersaudara itu nekat ingin ke Tanah Suci kendati tak mengantongi dokumen haji satu pun. Hingga kejadian unik itu menimpanya.

”Waktu itu saya berpikir, tidak hanya orang yang memiliki uang lebih yang bisa berhaji, karena saya juga ingin naik haji. Selain itu, saya sudah di panggil Wak Kaji oleh warga, padahal saya belum pernah naik haji,” imbuhnya.

Julukan Wak Kaji' yang diberikan warga itu bukanlah tanpa alasan. Lantaran, kebiasaan Choirun memakai peci putih khas orang pulang berhaji jadi sebab.

”Sejak muda saya selalu menggunakan peci putih ini. Saat pergi ke sawah dan mengantar ibu pergi ke pasar saya tidak pernah lepas peci,” terangnya.

Julukan itu kemudian membuat gairah Choirun untuk menunaikan ibadah haji semakin kuat. Ia pun semakin rajin mendekatkan diri kepada Allah. Selain melakukan salat wajib dan salat sunah, Choirun juga rajin berpuasa.

Tak hanya berdoa, Choirun juga mengikuti kuis yang digelar salah satu produk sampo. Bersama adiknya bernama Umi Naila, ia mengirimkan ratusan kemasan sampo ke sebuah radio swasta di Jombang untuk diundi.

”Kebetulan saat di undi, adik saya yang beruntung mendapatkan hadiah gelang emas seberat 5 gram. Gelang itu kemudian dijual saya ke toko perhiasan di Pasar Peterongan, Jombang seharga Rp76 ribu. Uang itu yang saya gunakan membeli perlengkapan haji,” paparnya.

(sal)
Live Streaming
Logo
breaking news x