Image

Air Mata di Jabal Rahmah

MAKKAH - Jarum jam menunjuk tepat ke angka 08.14 waktu Arab Saudi saat bus yang memuat 46 jamaah haji merapat di areal parkiran Jabal Rahmah, Selasa (23/8/2016).

Masih pagi memang, namun mentari sudah begitu pongah melontarkan sinarnya. Hawa dingin berubah drastis ketika kaki baru melangkah keluar bus. Kaca mata hitam, masker dan topi harus buru-buru harus dipakai demi sedikit mengurangi efek hawa panas dan sengatan matahari.

Hamparan tanah gersang seluas mata memandang segera menyambut diselingi burung-burung merpati yang beterbangan di sana sini, terusik langkah kaki-kaki manusia. Iya, jumlah burung-burung di pelataran Jabal Rahmah memang tak sebanding dengan seribuan manusia yang menyebar di nyaris seluruh penjuru perbukitan.

“Baiknya kita sarapan dulu di sana,” ucap Qomariyah, jamaah haji asal Mojokerto, Jawa Timur, sambil menunjuk area bebatuan di sisi barat timur Jabal Rahmah yang terlindung dari sinar matahari.

Dengan cekatan dia membersihkan bebatuan dari debu lantas menyodorkan paket makanan yang dibagikan oleh KBIH tempat dia bernaung ke anggota Media Center Haji.

Suasana akrab pun terjalin lantaran Mbak Qom, demikian saya menyapanya, yang kini berprofesi sebagai tenaga medis adalah kakak kelas waktu di Madrasah Aliyah dulu. Cerita tentang suasana sekolah, teman-teman, mbakyu saya yang sekelas dengannya, serta para guru menyelingi sarapan pagi kami. Celetukan para jamaah haji lain yang seusia dengan nenek saya pun sesekali menyela, mengingatkan cerita masa kecil di desa.

Namun jawaban Mbak Qom bahwa suaminya telah meninggal dunia, membuat perasaan saya jadi tidak enak. Jujur saya tidak tahu bahwa dia telah menjanda.

“Semoga segera ketemu penggantinya mbak,” hanya kalimat singkat itu yang bisa saya ucapkan untuk menutupi rasa canggung akibat salah bertanya.

15 menit berlalu, para jamaah lantas mengajak segera naik ke Jabal Rahmah lantaran mentari semakin meninggi. Rombongan ibu-ibu itu pun tertib melangkah di bawah komando saya menapaki jalan berupa tangga berliku. Instruksi agar berhati-hati saat berjalan betul-betul ditaati lantaran saat itu anak tangga sudah hampir tidak kelihatan dasarnya saking penuhnya kaki-kaki yang berebut untuk naik dan turun. Sampai juga rombongan di puncak bukit setelah berpeluh seperempat jam.

Rupanya bukan hanya di anak tangga terjadi kepadatan manusia. Puncak bukit sudah berubah laksana pasar kaget pada hari Minggu di komplek perumahan saya. Jamaah haji dari berbagai penjuru dunia tumplek blek di bukit yang menjulang tinggi di Arafah ini.

Tugu penanda tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa yang menjulang tinggi menjadi pusat perhatian massa. Empat penjuru bagian bawah tugu yang dicat hitam legam nyaris tak menyisakan ruang kosong. Mbak Qom pun pamit untuk berdoa dan saya pun beringsut mundur mengamati situasi sekitar.

(kha)
1 / 2
Live Streaming
Logo
breaking news x