Image

Pintu Utama Menuju Kakbah Mulai Dibuka

Ilustrasi (Reuters)

Ilustrasi (Reuters)

MAKKAH - Setelah sekian lama mengalami proses peluasan, pintu utama Masjidil Haram yang biasa disebut Bab Malik Abdul Aziz mulai difungsikan. Meski belum sepenuhnya selesai, gerbang utama yang diberi nomor 1 dari ratusan pintu masuk Masjidil Haram ini sudah bisa diakses para jemaah haji yang akan menuju area tawaf (Mataf).

Dibukanya Bab Malik Abdul Aziz mendekatkan akses jemaah haji Indonesia yang tinggal di daerah Misfalah. Posisi pintu yang desainnya akan diapit dua menara besar itu berhadapan langsung dengan Tower Zamzam.

Dibukanya pintu bercat putih ini juga menambah akses baru masuk Masjidil Haram. Sebelumnya, jemaah yang datang dari arah Misfalah dan Jarwal pintuk masuknya terkonsentrasi pada Bab Malik Fahd yang berada pada sisi sebelah kanan pintu utama.

Ribuan jemaah haji dari berbagai negara datang bergelombang sejak pagi untuk menunaikan salat Jumat di Masjidil Haram. Waktu baru menunjukan pukul 09.30 waktu Arab Saudi (WAS) saat tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah tiba di sana. Meski terbilang belum terlalu siang, panas sudah sedemikian terik dengan suhu mencapai 41 derajat celsius.

Namun, panas mentari tidak menyurutkan ribuan jemaah untuk salat Jumat berjamaah di Masjidil Haram. Mereka datang dari berbagai penjuru, bahkan sejak 3 jam sebelum salat Jumat dimulai agar bisa mendapatkan tempat di dalam masjid.

Kepada para jemaah, Khatib Salat Jumat mengingatkan bahwa waktu terus berjalan tanpa seorang pun yang bisa menghentikan. Karenanya, sudah semestinya umat Islam untuk bersegera menuju jalana takwa.

Suara Khatib memberat dan terisak, manakala membaca QS Ali Imran ayat 96 – 97: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat ibadah) manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya, terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) Maqam Ibrahim.”

Maqam Ibrahim menandai tempat Nabi Ibrahim berdiri ketika membangun Kakbah bersama anaknya, Nabi Ismail. Menurut Khatib, Maqam Ibrahim menjadi bukti nyata kepatuhan dan keikhlasan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah Swt.

Hal lainnya pada Baitullah adalah keberadaan Hajar Aswad. Batu hitam yang dalam riwayat dulunya berwarna putih lalu menghitam karena dosa anak Adam ini menyimpan sejarah kebijaksanaan Rasulullah Saw. dalam memberikan rasa keadilan kepada seluruh kabilah yang hampir terpecah karena berebut kesempatan untuk meletakkanya di Kabah.

Sebagai orang yang ditakdirkan Allah memenangkan sayembara, menjadi orang yang pertama kali lewat pintu masjid, Rasulullah berhak menjadi penentu keputusan atas perselisihan tentang siapa yang harus meletakan Hajar Aswad di Kabah.

Rasulullah lalu mengambil selembar selendang dan meletakan Hajar Aswad di bagian tengahnya. Seluruh pemuka kabilah yang berselisih diminta untuk memegang ujung selendang dan bersama-sama mengangkat Hajar Aswad. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah lalu meletakkan Hajar Aswad di Kabah. Keputusan ini diterima oleh seluruh kabilah sehingga tidak terjadi pertumpahan darah.

Menutup Khutbahnya, Khatib mengajak jemaah haji untuk menjadikan momentum berhaji di Tanah Suci sebagai Syiar Tauhid untuk meng-Esakan Allah dan syiar Talbiyah untuk memenuhi panggian Allah.

“Labbaikallahumma labbaik… labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan nikmata laka wal mulk, laa syariika laka,” katanya dengan suara terisak, Jumat (26/08).

Usai salat Jumat, tim MCH menjumpai sejumlah jemaah haji Indonesia asal Medan. Mereka mengaku baru pertama mengikuti Salat Jumat di Masjidil Haram. Menurut salah satu dari mereka, pengalaman pertama ini memberi kenikmatan tersendiri baginya.

“Salat Jumat nya enak di sini, ramai. Meski tidak mengerti, namun nikmatnya dapat. Apalah gunanya bahasa kita kalau tidak nikmat, tidak khidmat kita mendengarkan,” tuturnya.

(kha)
Live Streaming
Logo
breaking news x