Mencari Jati Diri ketika Berihram

Andi Rahmat/Kanan (foto: M Saifulloh/Okezone)

Andi Rahmat/Kanan (foto: M Saifulloh/Okezone)

MAKKAH - Perawakannya kecil dengan roman muka ceria khas anak baru gede (ABG). Pakaian ihram yang dipakainya menambah auranya kian resik. Usia pemuda berihram itu ternyata masih 17 tahun dan tengah menjalani proses berhaji seorang diri.

“Teman-teman saya bilang, mudah-mudahan kamu berubah dari sana (Tanah Suci). Dan saya memang mempunyai niat untuk berubah,” kata salah satu jemaah Indonesia termuda dari kloter 7 Embarkasi Makassar, Andi Rahmat saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) Daker Makkah di Pemondokan 102 Mahbas Jin, Makkah.

Secara kebetulan, Andi akan mencapai usia berulang tahun ke-18 persis saat puncak haji atau wukuf di Arafah pada 10 September mendatang.

Andi sejatinya menyadari dunia yang dilakoninya saat ini adalah dunia bermain dan mencari tantangan bersama teman-teman. Namun, Andi memiliki caranya tersendiri.

“Sambil bergaul, menjalankan ibadah juga,” katanya sembari mengatakan kalau teman-temanya juga minta untuk didoakan. Salah satunya seorang teman wanitanya yang minta didoakan lolos tes menjadi polisi wanita.

Remaja kelahiran Makassar ini pun menceritakan kisah pencarian jati diri melalui prosesi yang harus dilaluinya di tengah ritual berhaji. Bersama orang tuanya, Andi mendaftar haji pada tahun 2011 melalui domisilinya di Halmahera Utara.

Anak sulung dari empat bersaudara ini mengaku tidak memiliki persiapan khusus saat akan berangkat haji. Namun, diakuinya bahwa pengalaman berumrah pada tahun 2014 memberi wawasan dasar tentang apa yang harus dia lakukan saat beribadah haji.

“Saya pernah umrah pada tahun 2014, sekeluarga. Sudah tahu manasik haji. Naik haji karena dibiayai orangtua. Karena orangtua sudah janji waktu masih kecil untuk memberangkatkan Andi berhaji,” kata remaja yang memutuskan tidak kuliah demi membantu usaha dagang milik orang tuanya.

Ditanya soal makna haji, Andi memahami hal itu adalah panggilan Allah. “Pertama kali tiba, rasanya senang dan bahagia karena masih muda sudah mendapat kesempatan ke sini,” tuturnya.

Saat tim MCH menemuinya di lantai 11 Hotel Safwat Al Bait 1, Andi bersama rombongannya baru saja tiba dari Madinah, setelah menyelesaikan ibadah Arbain di Masjid Nabawi. Meski berhaji karena dibiayai orang tua, namun Andi mengaku tidak akan melewatkan kesempatan itu untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Andi berdoa sungguh-sungguh agar orang tuanya senantiasa diberi kesehatan, banyak rezeki, dan terhindar dari masalah.

Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) UPG 07 Mahmud Zul Kirom M Khoiruddin mengaku bangga mendampingi Andi yang berangkat sendiri di usianya yang masih remaja. Menurutnya, anak muda cenderung bisa mengikuti manasik dan kuat secara fisik.

“Kalau yang muda, dari sisi bimbingan manasik bisa mereka pahami. Dari sisi kemampuan fisik, mereka juga istitha’ah secara jasmani dan rahani sehingga lebih mudah untuk diarahkan,” tuturnya.

(fid)
Live Streaming
Logo
breaking news x