Image

Blusukan, Dirjen Haji Panen Pujian & Dicurhati Koper Hilang

Jamaah haji di Makkah (Saifulloh/Okezone)

Jamaah haji di Makkah (Saifulloh/Okezone)

MAKKAH – Hak-hak jamaah haji telah dideklarasikan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Para jamaah di antaranya berhak mendapatkan pemondokan layak serta pelayanan prima dari petugas.

Hak-hak lainnya, transportasi bus shalawat bagi jamaah yang tinggal di atas jarak 1.500 meter dari Masjidil Haram, bimbingan ibadah, pelayanan kesehatan, perlindungan dan jaminan keamanan, serta jawaban atas pengaduan.

Guna memastikan terpenuhinya hak-hak tersebut, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Abdul Djamil melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pemondokan di Makkah. Sedikitnya tiga pemondokan di tiga sektor dari sembilan sektor yang ada disambangi oleh mantan Dirjen Bimas Islam tersebut.

“Kita harus memberikan layanan sebaik-baiknya. Karena tugas pemerintah memberikan layanan, memberikan bimbingan, dan melindungi jamaah haji,” ujarnya di sela-sela acara inspeksi mendadak di Makkah, Rabu (31/8/2016).

Pemondokan pertama yang disambangi Abdul Djamil berlokasi di sektor 9 Misfalah dengan nomor rumah 910. Di sana, Abdul Djamil yang didampingi Direktur PHU Muhajir Yanis beraudiensi dengan para jamaah dari Madiun, Jawa Timur, yang sedang bersantai di lobi hotel. Terungkap dari sisi pelayanan transportasi Madinah-Makkah para jamaah puas lantaran diantar menggunakan bus yang sudah di-upgrade. Begitu pula dengan fasilitas perumahan.

Berikutnya terkait menu makanan, cita rasa Indonesia menurut mereka sudah mencukupi untuk memuaskan lidah. Sebagaimana diketahui, selama di Makkah para jamaah berhak mendapatkan makan siang dan makan malam gratis selama 12 hari.

“Konsumsi lebih bagus. Minumannya disediakan lengkap, bahkan lebih dari cukup. Dulu saya beli sekarang tidak. Di Madinah juga bagus. Dulu hotelnya tidak sebagus sekarang. Aman semua barang ditinggal di hotel tidak hilang. Jarak dengan Masjidil Haram juga lebih dekat, bus (shalawat) tersedia terus, dulu 8 orang sekamar sekarang 4 orang,” ujar Ibnu Mahmudi yang sudah pernah berhaji beberapa tahun silam.

Berikutnya rombongan menyasar pemondokan jamaah di sektor 8 dengan nomor rumah 802. Di tempat ini Abdul Djamil dicurhati para jamaah rombongan 4 embarkasi Batam kloter 13 asal Pontianak, yang kehilangan 11 tas tentengan dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah. Disinyalir tas-tas ini terbawa bus. “Kemarin sampai (Makkah) jam 14.00 WAS, sampai jam 23.00 dicari tidak ketahuan di mana posisi tas. Saya yakin terbawa bus karena saya ikut memasukkan tas-tas ke bagasi kecil di dalam bus,” ujar Sudarno, salah satu jamaah yang tasnya tercecer.

Mendapat laporan ini, Abdul Djamil lantas menenangkan para jamaah. Dia lantas mengambil ponselnya dan menghubungi petugas yang mengurus hal tersebut. “Kalaupun (tasnya) kebawa bus, ada di syarikat (perusahaan bus), tenang saja,” ujarnya.

Sementara Mukhlisin dari embarkasi Surabaya kloter 45, ketika ditemui rombongan di tempat yang sama, mengakui layanan haji tahun ini dari aspek katering, perumahan, dan pelayanan petugas lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Meski belum sempat berhaji hal itu disimpulkan dari cerita teman-temannya yang sudah terlebih dahulu ke tanah suci.

“Kami ditempatkan di hotel yang tidak jauh dari Masjidil Haram, kami menikmati dengan berjalan kaki. Kamar yang kami tempati bintang tiga. Kamar mandi dalam, ber AC. Begitu ada masalah kita klaim dan langsung direspons petugas. Alhamdulillah, tahun sebelumnya, jamaah kalau berangkat bawa koper besar karena butuh bekal untuk masak selama di Makkah, tahun ini kita dikasih konsumsi, 24 kali. Masakannya cocok. Menu cukup,” ujar jamaah yang tergabung dalam KBIH Labaik dari RS Muhammadiyah Lamongan tersebut.

Puas mendengar penuturan para jamaah di sektor 8, rombongan Dirjen PHU kemudian bergeser ke perumahan jamaah haji di Sektor 207 di wilayah Mahbas Jin. Di tempat ini, Abdul Djamil fokus mendatangi kamar-kamar jamaah secara acak.

Kamar pertama yang didatangi berada di lantai 6. Di kamar nomor 636, Abdul Djamil mendapati satu kamar berisi enam jamaah laki-laki, sementara terpaut beberapa kamar di lantai yang sama, didapati kamar perempuan dihuni empat orang.

Para jamaah yang ditemui mengaku cukup puas dengan fasilitas pemondokan. “Alhamdulillah kamar cukup luas, kamar mandi tidak ada masalah,” ujar Muslich dari kloter 42 embarkasi Solo.

“Hotel bagus, makanan menunya cocok ada daging, ikan dan sayur. Kamarnya satu kamar 6 orang, biasa untuk jamaah haji, dengan spring bed semua,” ujar Mahasin, menambahkan. Jamaah lainnya, Gunadi, mengkritik menu yang dihidangkan karena sayur yang disajikan kering, tanpa kuah.

“Itu karena (makanan) harus dibawa dari dapurnya di Jabal Nur, kalau sayur terlalu banyak kuah bisa tumpah, yang penting ada sayurnya,” Abdul Djamil menjelaskan.

Di penghujung sidak, Abdul Djamil memaparkan blusukannya ini untuk memastikan semua layanan berjalan sesuai perencanaan.

“Kalau makanannya cocok berarti sudah sesuai dengan kontrak. Soal porsi memang sudah diatur dalam kontrak. Sebelum disampaikan ke jamaah akan dicek gramasinya. Jika pihak katering mengurangi, maka akan dipotong jumlah pengadaannya. Jika mengulang lagi sampai tiga kali, maka kita batalkan lalu dialihkan ke yang lain. Kalau di Madinah dapat makan dua kali sehari dan pada malam hari dibagi roti dan cupcake untuk sarapan pagi. Kalau di Makkah hanya 24 kali, dulu hanya 15,” ujarnya.

(fid)
Live Streaming
Logo
breaking news x