"Dua Bulan, 10 Murid Saya Hengkang"

Foto: Zen Arivin/ Okezone

Foto: Zen Arivin/ Okezone

MOJOKERTO - Debu dan bau yang menerjang SDN Mojolebak, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur benar-benar mengganggu para siswa. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu dua bulan ini, banyak siswa yang memilih hengkang dan mencari sekolah yang bebas polusi.

Pihak sekolah pun mengaku tak bisa berkutik saat para wali murid satu per satu memindahkan anak-anak mereka dari sekolah yang didirikan pada 1973 itu. Lagi-lagi, alasan buruknya udara membuat orangtua memilih langkah aman. Kendati harus menyekolahkan anaknya di tempat yang lebih jauh.

"Saat ini berkurang drastis jumlah siswanya. Selama dua bulan ini, sudah sekira 10 siswa yang pindah dari sekolah ini. Alasannya karena debu itu," ungkap Kepala Sekolah SDN Mojolebak, Taryono, Senin 19 September 2016.

Sebelumnya, di tempat itu terdapat dua lembaga pendidikan, yakni SDN Mojolebak 1 dan SDN Mojolebak 2. Namun karena kebijakan, dua sekolah tersebut akhirnya dimarger menjadi satu lembaga.

"Saat awal dimarger itu, dari kelas 1 sampe kelas 6, jumlahnya mencapai kurang lebih 400 siswa. Sekarang hanya tinggal 170 siswa saja yang sekolah di sini," imbuh Kepsek yang baru beberapa bulan menjabat di SDN Mojolebak ini.

Taryono meyakini, jumlah siswa yang menimba ilmu di sekolah itu dipastikan kian surut, jika kondisi lingkungan di tempat itu tidak berangsur membaik. Sebab, warga tak ingin anak-anaknya terserang penyakit karena menghirup udara bercampur debu yang berasal dari limbah perusahaan pengolahan besi yang letaknya tak jauh dari sekolah itu.

"Ya pasti akan semakin sedikit. Buktinya, tahun ajaran baru kemarin hanya ada 20 siswa yang mendaftar. Sedangkan anak-anak lainnya memilih untuk tidak sekolah di sini," terang Taryono, sembari menunjukkan jurnal penerimaan siswa baru tahun ajaran 2016-2017.

Sebenarnya, Taryono dan beberapa guru sudah melaporkan perihal kondisi yang dialami siswa SDN Mojolebak itu ke instansi di atasnya. Kendati demikian, belum ada langkah konkret. Padahal, saat ini kondisi di sekolah itu sangat memprihatinkan.

"Sudah mengadu ke UPT (unit pelaksana teknis). Katanya dibantu, diusahakan, tapi sampai sekarang belum ada tindakan. Memang kalau dilihat dengan kasat mata tidak kelihatan. Tapi debu itu memang benar ada. Siswa ini sampai tiga kali menyapu setiap harinya," paparnya meyakinkan.

Ia pun berharap, persoalan ini bisa kunjung selesai. Sehingga tidak ada anak didiknya yang dirugikan karena limbah debu yang berasal dari sisa pabrik pengolahan besi yang berjarak 50 meter dari sekolah itu. Sebab, jika tidak bisa dipastikan, sekolah ini lambat laun akan tutup karena minimnya minat siswa untuk belajar di tempat itu.

"Itu otomatis. Kalau seperti ini terus ya bisa habis siswanya. Karena siswa akan memilih sekolah lain yang lebih nyaman. Padahal, antara sekolah ini dengan perusahaan duluan sekolahnya," papar Taryono.(afr)

(sus)
breaking news x