facebook pixel

Sekilas Perjalanan Kerjasama Esemka dan Proton

Perjalanan panjang produsen mobil nasional Esemka (Foto: Okezone)

Perjalanan panjang produsen mobil nasional Esemka (Foto: Okezone)

JAKARTA - Demi mewujudkan terciptanya proyek mobil Esemka, CEO PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL) AM Hendropriyono menggandeng perusahaan automotif asal Malaysia, Proton Holdings Bhd.

Sebagai tanda kerjasama, Hendropriyono menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Proton di Malaysia pada Februari 2015. Penandatanganan itu disaksikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Kerjasama ACL dengan Proton lebih menitikberatkan pada riset, pengembangan, dan teknik. Di samping itu, keduanya bersama-sama melakukan studi kelayakan pendaftaran komponen sampai Esemka mampu memproduksi mobil sendiri.

Penandatanganan MoU tersebut sempat menjadi polemik di dalam negeri. Banyak pihak menyayangkan kenapa proyek mobil Esemka harus bekerja sama dengan Malaysia. Atas dasar itu, Hendropriyono menegaskan bahwa proyek kerjasama ACL dan Proton murni antara swasta dengan swasta, tidak melibatkan pemerintah. Kehadiran Presiden Jokowi hanyalah untuk memenuhi undangan.

Lama tak terdengar kabarnya, tiba-tiba muncul perusahaan yang menamakan diri PT Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH). Masih dipimpin oleh Hendropriyono, kabarnya perusahaan ini akan meluncurkan mobil Esemka pertama jenis pikap. Namun hingga kini mobil tersebut belum juga meluncur, padahal Managing Director ACEH Hosea Sanjaya sempat mengutarakan bahwa mobil meluncur pada Agustus tepat di momen kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam proyek pembuatan mobil pikap Esemka, pihaknya mengklaim ada campur tangan Proton. Namun, Hosea enggan membocorkan lebih rinci mengenai hal tersebut. Sampai saat ini, proyek mobil nasional Esemka masih berjalan. Dua pabrik pun tengah dalam pembangunan, yakni di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, dan satu lagi di Boyolali, Jawa Tengah.

Namun, Hendropriyono memutuskan untuk tidak memperpanjang kerjasama dengan Proton terkait kondisi politik di Malaysia yang tidak stabil. Hal ini berdampak pada kinerja Proton.

Sebagai gantinya, Hendropriyono akan menggandeng perusahaan automotif dari negara lain, seperti dari Eropa dan China. Namun ke depannya Hendropriyono tetap ingin Esemka dikembangkan dan diproduksi melibatkan SDM dan komponen lokal, 100 persen buatan Indonesia.(mli)

(ton)
​