Indonesia Kekurangan SDM Bidang IT

(Foto: Iradhatie Wurinanda/Okezone)

(Foto: Iradhatie Wurinanda/Okezone)

JAKARTA - Kian pesatnya laju perkembangan industri teknologi, informasi, dan komunikasi membuat kebutuhan sumber daya manusia (SDM) di bidang ini semakin meningkat. Data BMI Industry Forecast menyatakan, pasar teknologi informasi di Indonesia akan mengalami kenaikan sebesar 13,6 persen dari 2015 ke 2019. Akan tetapi, jumlah SDM yang memiliki tingkat penguasaan teknologi informasi terlatih diperkirakan turun sebanyak 9 juta orang hingga 2030 nanti.

Oleh sebab itu, program-program pemberdayaan generasi muda di bidang teknologi sangat dibutuhkan, seperti melalui pendidikan di sekolah. Kendati demikian, pada kenyataannya lulusan SMK atau perguruan tinggi bidang IT justru sering tak dapat digunakan industri.

"Kami merasa di industri sangat ada kekurangan. Jadi apa yang dihasilkan pendidikan berbeda dari yang dicari industri. Karena itu ini tugas industri untuk kerjasama dengan pemerintah supaya menjadi jembatan sehingga pelajar keluar sekolah dijamin pekerjaannya," ujar Corporate Affairs Director Microsoft Indonesia, Ruben Hattari di Gedung A Kemdikbud, Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Ruben menjelaskan, ada beberapa alasan yang membuat lulusan bidang IT tak langsung diserap industri. Salah satu penyebabnya, yakni materi yang diberikan di sekolah sudah ketinggalan zaman dengan apa yang ada di industri.

"Kendalanya materi pendidikan yang dipaparkan di sekolah itu sudah kadaluarsa dari apa yang dibutuhkan industri. Makanya hubungan industri dengan pendidikan harus lebih erat. Microsoft sendiri ada kurikulum coding untuk bisa diterapkan di sekolah," tuturnya.

Kondisi tersebut turut diakui oleh Kabid SMA dan SMK Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Suharno. Dia mengungkapkan, perlu adanya relevansi keahlian di SMK. Selain itu, langkah berikutnya, yakni sinkronisasi kurikulum dengan industri.

"Relevansi keahlian supaya yang lulus SMK dapat langsung dipakai industri. Sedangkan sonkronisasi kurikulum harus kerjasama dengan industri. Diakhiri dengan sertifikasi kompetensi agar lulusan tak hanya bisa kerja di Indonesia tetapi juga di ASEAN. Sekarang ini sudah MEA, " paparnya.

Suharno menambahkan, di Dinas Pendidikan DKI Jakarta juga telah membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Tempat Uji Kompetensi (TUK). Para guru pun didorong untuk jadi asesornya.

"Dan ini perlu ada pelatihan. Karena bagaimana guru bisa mensertifikasi kalau mereka tidak ada ilmunya. Nah, nanti ada pelatihan guru agar punya kemampuan asesor. Itu semua kami dorong melalui suku dinas (sudin) dan juga pengawas, serta kepala sekolah," tandasnya.

(sus)
breaking news x