Hary Tanoe Soroti Rendahnya Produktivitas Indonesia

Foto: Rachmat Fahzry/ Okezone

Foto: Rachmat Fahzry/ Okezone

CIREBON- Pemilik atau CEO MNC Group, Harry Tanoesoedibjo (HT) menilai bangsa Indonesia kini cenderung konsumtif. Kondisi itu tak lepas dari kebijakan negara yang terlalu cepat terjun ke pasar bebas.

Dalam kuliah umum bertema Kewirausahaan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia di Universitas Swadaya Gunung Jati, Kota Cirebon, kemarin, Hary Tanoe menyoroti bagaimana pertumbuhan ekonomi Indonesia tak dibarengi produktivitas penduduknya. Setidaknya 60% masyarakat Indonesia kini berperilaku konsumtif.

“Ekonomi Indonesia tumbuh, tapi produktivitas rendah dan tak kompetitif. Kondisi ini bisa berjalan terus bila unsur konsumsi tetap dominan,” ungkapnya.

Bila perilaku konsumtif tak dihentikan, pertumbuhan ekonomi negara berpotensi stagnan. Sebab, lanjutnya, perilaku konsumtif lebih banyak menghabiskan tabungan (saving).

Lain halnya bila produktivitas ditingkatkan. Dalam konteks ini, rendahnya produktivitas dikaitkan Hary Tanoe dengan rendahnya lapangan pekerjaan maupun minimnya jumlah entrepreneur (wirausahawan) di Indonesia. Akibatnya, Indonesia pun sulit maju.

Saat ini, wirausahawan lebih banyak tumbuh di kota-kota besar, sedangkan di kota lain yang lebih kecil nyaris tak ada. Kondisi itu menyebabkan munculnya kesenjangan sosial sehingga membuat pembangunan timpang.

“Penyebabnya karena Indonesia terlalu cepat menganut kapitalisme atau terjun ke pasar bebas, salah satunya MEA. Padahal, secara umum pembangunan di daerah-daerah belum merata,” kata Hary Tanoe yang juga Ketua Umum Partai Perindo ini.

Menurutnya, pembangunan di Indonesia selayaknya merata dulu sebelum kemudian masuk pasar bebas. Karenanya, selain korupsi, narkoba, dan hal lainnya, ketimpangan sosial juga harus diberantas.

Hary Tanoe yang pernah masuk sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes pada 2011 ini menyebut, pembangunan ekonomi Indonesia haruslah berbasis kesejahteraan atau kerakyatan. Tak hanya kota besar, ekonomi juga harus ditumbuhkan di kota-kota lain se-Indonesia.

“Pemerintah daerah juga harus membuat kebijakan berbeda, yang disesuaikan kebutuhan daerah masing-masing,” tegasnya.

Dia pun berpesan kepada generasi muda untuk tumbuh sebagai generasi produktif di daerahnya masing-masing. Untuk ini, dirinya mengumbar tips bagi para mahasiswa Cirebon yang hadir di mana kesuksesan dapat diraih melalui visioner di bidang yang tepat. Dengan kata lain, setiap orang yang sejatinya berhak sukses, harus memilih bidang yang tepat untuk sukses.

Tak hanya visioner, hal utama lainnya berupa kerja keras dan inovatif. Hary Tanoe mencontohkan sejumlah perusahaan tersukses sedunia semacam Apple, Google, dan Microsoft, yang berada di puncak setelah melalui serangkaian kerja keras dan inovasi tiada henti.

“Tak usah ke kota besar untuk sukses, bangun usaha kalian di daerah masing-masing. Dengan begitu pun, daerah kalian akan maju,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, Wakil Rektor III, Unswagati, Alfandi mengatakan, hanya sekitar 0,18% wirausahawan di Indonesia. Padahal, untuk membangun Indonesia maju setidaknya dibutuhkan minimal 2% wirausahawan.

“Sementara, wirausahawan di negara lain seperti Amerika sekitar 12%, Jepang sekitar 10%, Singapura sekitar 7,2%, dan Malaysia sekitar 3%. Tak heran mereka kemudian maju,” tuturnya.

Kehadiran Hary Tanoe di Unswagati sendiri diharapkan dapat memotivasi generasi muda di Cirebon untuk berwirausaha dan meraih kesuksesan seperti yang diraih pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu. Sebagaimana tujuan tersebut, kehadiran HT hari itu pun mengundang antusiasme tinggi para mahasiswa Unswagati.

Selain memberi kuliah umum, hari itu, HT pun sempat bersilaturahmi dengan para petani dan nelayan di Cirebon. HT di antaranya melakukan panen raya bawang merah di Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, maupun berdialog dengan warga di kampung nelayan di kawasan Samadikun, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon. HT juga berkesempatan melantik ratusan DPR Partai Perindo di Cirebon. (afr)

(sus)
breaking news x