Peneliti UGM: Banjir Bandang Bisa Dicegah

Ilustrasi

Ilustrasi

MALANG- Peneliti banjir dari Universitas Gajah Mada, Profesor Agus Maryono mengungkapkan, banjir bandang yang terjadi di Indonesia bisa dicegah dan dihindari. Demikian disampaikan Agus dalam Kongres Sungai Indonesia II di Selorejo, Ngantang, Malang, Jumat (23/9/2016).

Menurut Agus, ada dua jenis banjir, yakni banjir biasa dan banjir bandang. Banjir biasa, kata dia, datangnya perlahan, naiknya juga perlahan, lalu meluber dan menggenang. "Surutnya juga perlahan," kafa Agus dalam Kongres Sungai Indonesia II, di Waduk Selorejo, Ngantang, Malang, Jumat (23/9/2016).

Sementara banjir bandang, menurut Agus, datangnya mendadak, cepat, dan sekira 30 menit hilang. Tapi bekas yang ditimbulkannya dahsyat, mobil bergelimpangan, rumah hanyut, batu dan kayu berserakan. "Sudah puluhan kali terjadi banjir bandang di Indonesia dan terakhir di Garut," ujarnya.

Dari penelitian Agus dan rekan-rekannya terkait bajir bandang di Bahorok pada 2003, terungkap bahwa banyak sekali tumpukan kayu dari hasil longsoran dan pelapukan di hulu. Tumpukan ini membendung di berbagai tikungan sungai atau tempat-tempat tertentu, membentuk pembatas sungai, baik besar maupun kecil.

"Kalau di hulu sungai seperti itu, akan terjadi banjir bandang," kata Agus mengingatkan.

Selain itu, kata Agus, jika ada hujan deras, tapi aliran sungai terlihat bersih, patut dicurigai lumpur dan kayu tersangkut di atas dan sewaktu-waktu bisa terjadi banjir bandang ketika tidak kuat lagi membendung.

Agus menambahkan, solusi mengantisipasi terjadinya banjir bandang adalah semua pihak harus sering menyusuri sungai ke hulu untuk memeriksa apakah ada kayu-kayu lapuk yang membendung sungai. "Kayu-kayu itu digergaji dan disingkirkan agar tidak membendung, panen kayu lapuk di sepanjang sungai mencegah banjir bandang agar air lancar.

Lebih lanjut Agus menyampaikan, banjir bandang tidak selalu disebabkan oleh kondisi daerah aliran sungai (DAS) kritis. Tapi bisa juga terjadi karena ada pertemuan dua anak sungai yang secara bersamaan arusnya bertemu di satu titik dan tidak kuat menampung. "Tapi yang seperti ini jarang terjadi, bisa diantisipasi dengan memasang peringatan dini untuk mencegah korban," kata dia.

Ia mengingatkan, banjir bandang akan terulang kalau tidak diurus. Tergantung kondisi kayu dan lapukan di atas atau hulu sungai. "Kalau tidak diatasi akan terulang, instansi terkait harus meneliti sungai mana saja yang pernah banjir bandang terutama yang sudah lama agar bisa dicegah," tukas Agus.

(ulu)
breaking news x