Image

Pengalaman Muhammad Berhaji, Takjub Lihat Lift & Burung Besi

jamaah haji asal Kabupaten Bombana, Muhammad (Foto: M Saifulloh/Okezone)

jamaah haji asal Kabupaten Bombana, Muhammad (Foto: M Saifulloh/Okezone)

MAKKAH - Berhaji bagi kebanyakan orang merupakan perjalanan sekali seumur hidup. Tak mengherankan bila kemudian meninggalkan kesan mendalam. Seperti yang dialami Muhammad, jamaah haji asal Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Berhaji bagi dia tak sekadar datang ke baitullah, tapi menorehkan kisah-kisah baru diusianya yang menapak 80 tahun. Dengan berhaji dia memulai debut perdananya untuk banyak hal.

“Kalau turun dari kamar di lantai delapan gampang, lewat tangga, tapi kalau naik saya nunggu saja sampai ada orang yang naik lift lalu ngikut,” ujar Muhammad saat duduk santai di pelataran masjid di sekitar hotel tempat dia tinggal.

Maklum dia tidak tahu cara memencet tombol lift menuju kamarnya di lantai delapan Hotel Surra Man Raa Pemondokan 602, Syisyah, Makkah. Dia mengaku heran ada kamar bisa naik turun membawa orang.

Tinggal di hotel juga menjadi pengalaman baru baginya. Seumur-umur dia belum pernah tinggal di hotel. Bagi dia, hotel bintang tiga yang kini ditempatinya merupakan bangunan terbaik yang pernah ditinggali. Kasurnya sangat empuk, sayang anginnya dingin. “Rasanya wuih begitu di badan,” tuturnya.

Tapi Muhammad bersama tiga rekannya tak kehabisan akal. Jendela kamar dibuka setengah sehingga udara dingin dari AC sedikit ternetralisir. Hal lain yang membuat dia harus beradaptasi adalah mandi menggunakan shower. Dibutuhkan beberapa kali latihan agar lancar ketika menggunakan alat penyemprot air tersebut.

Terlepas dari tantangan yang dihadapi, dia sangat berterimakasih kepada pemerintah yang sudah menyediakan kamar terbaik untuknya.

Cerita lelaki yang berprofesi sebagai petani itu lantas beralih soal pesawat terbang yang membawanya dari kampungnya ke Kendari lalu ke tanah suci. Ini juga menjadi pengalaman pertama baginya. Tentu saja dia merasa kikuk namun beralih takjub saat pesawat sudah mengudara.

“Pas tengok ke jendela tinggi sekali, langit tampak ujungnya seperti di tengah laut,” ujar Muhammad yang di kala muda pernah menjadi anak buah kapal tersebut.

Dia lantas terheran-heran dengan kecepatan burung besi terbang. “Dari Bombana ke Kendari kalau naik kapal jam enam sore sampai jam dua dini hari, ini naik pesawat cepat sekali,” ujarnya.

Muhammad yang tergabung dalam kloter UPG 21 tersebut baru merasa cemas dan bosan di dalam pesawat saat perjalanan menuju Jeddah, Arab Saudi, lantaran lamanya waktu tempuh sekira delapan sampai sembilan jam. Tapi semua perjuangannya terbayar lantaran mendapat pengalaman baru, menempuh jarak ribuan kilometer dari kampung halamannya.

(put)
1 / 2
Live Streaming
Logo
breaking news x