Image

Akademisi Dunia Sambut era Society 5.0

Foto: Ilustrasi Okezone

Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah berhasil mengubah kehidupan manusia. Bahkan, saat ini dunia akan masuk dalam era Society 5.0, yakni ketika Iptek mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh manusia, khususnya dalam bidang kesehatan.

Dalam sebuah forum bertajuk Science and Technology in Society Forum (STS Forum) di Jepang belum lama ini, Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe menjelaskan, era Society 1.0 merupakan masa berburu, dilanjutkan dengan era Society 2.0 ketika manusia bertani. Sedangkan di era Society 3.0 munculnya industrialisasi.

"Saat ini kita sedang bersiap-siap meninggalkan era Society 4.0, yaitu era teknologi informasi menuju era Society 5.0. Dalam era Society 5.0 seluruh teknologi penginderaan, robotika, komunikasi, big data, dan komputasi awan akan menyatu menjadi solusi untuk berbagai masalah yang sebelumnya dianggap tidak dapat terpecahkan," paparnya dinukil dari siaran pers yang diterima Okezone, Kamis (13/10/2016).

Delegasi Indonesia dalam Forum STS tersebut diwakili oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Muhammad Dimyati, Kepala BPPT Unggul Priyanto, dan Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain. Dimyati mengatakan, forum tersebut merupakan wadah bagi para akademisi, peneliti, pelaku bisnis, hingga pemerintah untuk bertukar informasi dan bersinergi.

"Sampai ada robot yang bisa diajak berteman oleh orang dewasa. Dan bahkan dijadikan intimate friends. Atau mobil tanpa sopir dan itu hasilnya nanti akan didemonstrasikan besar-besaran pada saat Olimpiade Jepang," terangnya.

Kendati demikian, Dimyati menegaskan, segala bentuk riset perlu ada pembahasan terkait aspek etika dan tanggung jawab dari berbagai inovasi tersebut.

"Lalu apa yang dibutuhkan? Tahun depan untuk itu kita harus menyiapkan hal-hal yang berhubungan dengan manajerial digital," imbuhnya.

Mengingat pentingnya Forum STS tersebut, Dimyati yang kala itu mewakili Menristekdikti Mohamad Nasir menginginkan ke depan bisa mengajak peneliti muda Tanah Air. Setiap tahun, forum ini dihadiri sekira 1.200 peserta dari lebih 100 negara di dunia.

"Supaya mereka mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan para pemenang nobel dari seluruh dunia," tutupnya.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x