Raja Thailand Mangkat, Penghina Kerajaan Dijatuhi "Sanksi Sosial"

Rakyat Thailand mengenang mendiang Raja Bhumibhol Adulyadej selama masa berkabung 30 hari. (Foto: Reuters)

Rakyat Thailand mengenang mendiang Raja Bhumibhol Adulyadej selama masa berkabung 30 hari. (Foto: Reuters)

BANGKOK - Menteri Kehakiman Thailand, Paiboon Koomchaya, mengatakan Thailand memberlakukan “sosial sanksi” terhadap orang-orang yang menghina kerajaan setelah meninggalnya Raja Bhumibol Adulyadej.

Keputusan pemerintah junta Thailand ini muncul setelah beredar video di Facebook soal tindakan main hakim sendiri oleh para loyalis kerajaan terhadap orang-orang yang dituduh menghina kerajaan.

”Tidak ada cara yang lebih baik untuk menghukum orang-orang ini ketimbang sanksi sosial,” kata Paiboon Koomchaya, pada hari Selasa yang dilansir Al Jazeera, Rabu (19/10/2016). Dia berjanji untuk mengejar orang-orang yang telah melanggar hukum.

Sebuah video yang beredar di Facebook mewarnai suasana duka warga Thailand yang kehilangan Raja Bhumibol. Video itu menunjukkan massa loyalis kerajaan menendang dan memukuli seorang pria. Pria itu dipaksa bersujud meminta maaf karena diduga menghina kerajaan.

Aksi main hakim sendiri itu berlangsung di sebuah tempat di Chonburi, sebelah timur Bangkok. Pria yang diamuk massa itu berteriak; ”Saya tidak bermaksud melakukannya, saya suka raja. Ini salah saya!”.

Tidak jelas kapan amuk massa itu terjadi, namun video diunggah di Facebook pada Senin malam.

Sebelumnya, pada hari Minggu seorang wanita di Pulau Samui dipaksa oleh polisi untuk berlutut di bawah potret Raja Bhumibol di depan massa yang marah setelah dia diduga mengunggah komentar yang menghina monarki di Facebook. Wanita itu telah didakwa dengan hukum yang dikenal dengan nama Lese Majeste, semacam hukum penistaan.

Sementara itu, pihak berwenang Thailand berjuang untuk menyensor kritikus serta media yang berbasis di luar negeri, yang menyuarakan kritik terhadap kerajaan dan keluarganya.

(dka)
breaking news x