Thailand Upayakan Ekstradisi Penghina Kerajaan di Luar Negeri

Warga Thailand berduka atas kepergian Raja Bhumibol Adulyadej (Foto: Chaiwat Subprasom/Reuters)

Warga Thailand berduka atas kepergian Raja Bhumibol Adulyadej (Foto: Chaiwat Subprasom/Reuters)

BANGKOK – Thailand tengah memasuki masa berkabung setelah Raja Bhumibol Adulyadej meninggal dunia pada Kamis 13 Oktober 2016. Di tengah masa berkabung tersebut, pemerintah junta militer semakin gencar menghukum para penghina kerajaan.

Pemerintah junta militer mengklaim telah berhasil melacak enam tersangka penghina keluarga kerajaan sesuai undang-undang (UU) Lese Majeste yang tinggal di luar negeri. Junta siap untuk mengupayakan ekstradisi para pelaku dari negara tempat mereka bersembunyi.

“Kami akan meminta kerja sama, persahabatan, dan rasa hormat dari negara-negara ini. Kami berharap mereka mengerti bahwa seluruh warga Thailand tidak bisa menerima penghinaan ini,” ujar Menteri Kehakiman Paiboon Koomchaya, seperti dimuat Reuters, Rabu (19/10/2016).

Pria berpangkat jenderal itu sadar bahwa ada tantangan hukum dan diplomatik yang signifikan untuk mengupayakan ekstradisi. Namun, Paiboon Koomchaya mengaku tidak peduli dan akan tetap mengajukan perintah ekstradisi kepada negara yang dituju.

Keputusan tersebut diambil setelah munculnya permintaan di media sosial dari kelompok loyalis Kerajaan Thailand yang menamakan dirinya Rubbish Collection Organization. Mereka meminta warga Negeri Gajah Putih mencari pelaku penghina kerajaan yang diyakini bersembunyi di Paris, Prancis.

Thailand memiliki UU Lese Majeste untuk mencegah kritik dan penghinaan terhadap keluarga kerajaan. UU tersebut mulai berlaku sejak 1908. Mengkritik atau menghina keluarga kerajaan dianggap sebagai tindakan kriminal dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara.

(war)
breaking news x