JPU Dakwa Pengacara Raoul Suap Hakim PN Jakpus USG28 Ribu

Hukum (Foto: Ilustrasi)

Hukum (Foto: Ilustrasi)

 

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa bos dari Wiranatakusumah Legal and Consultant yakni Raoul Adithya Wiranatakusumah karena melakukan suap terhadap hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Raoul yang bertindak sebagai pengacara itu dianggap JPU melanggar Pasal 6 Ayat (1) Huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) Huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP.

Dua hakim pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang disebut menerima suap sebesar USG28.000 adalah Partahi Tulus Hutapea dan Casmaya. Penyuapan tersebut dilakukan melalui Panitera PN Jakarta Pusat, Muhammad Santoso. Sekadar diketahui, Partahi Tulus merupakan salah satu hakim yang juga menangani kasus kopi sianida dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso.

"Terdakwa bersama Ahmad Yani telah menjanjikan atau turut serta melakukan perbuatan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim," kata JPU KPK, Iskandar Marwanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (19/10/2016).

JPU menjelaskan, pemberian tersebut bertujuan agar terdakwa dapat memengaruhi putusan perkara gugatan perdata antara PT Mitra Maju Sukses (MMS) melawan PT Kapuas Tunggal Persada (KTP), Wiryo Triyono dan Carey Ticoalu, yang diserahkan kepada hakim untuk diadili.

Pada 13 April 2016, Raoul dikabarkan menemui Casmaya yang merupakan salah satu anggota majelis hakim usai mendatangi Hakim Partahi yang sedang tidak ada di ruangannya. Namun, pada awal Juni 2016, Ahmad Yani selaku karyawan Raoul diajak ke PN Jakpus untuk diperkenalkan dengan Santoso guna berkomunikasi terkait kasus perkara.

Selanjutnya, pada 17 Juni 2016, Raoul menemui Santoso dan menjanjikan akan memberikan uang sebesar USG25.000 untuk majelis hakim, apabila gugatan diputuskan ditolak. "Santoso juga dijanjikan bagian sebesar USG3.000," ujar Iskandar.

Sedangkan pada 22 Juni 2016, Raoul menemui Hakim Partahi Tulus Hutapea di PN Jakarta Pusat untuk dimenangkan kasusnya. Saat itu, Raoul menjanjikan uang sebesar USG25.000 untuk majelis hakim.

"Untuk majelis hakim, uang dimasukkan ke dalam amplop putih bertuliskan HK, berisi 25.000 dolar Singapura, dan untuk Santoso bertuliskan SAN, berisi USG3.000," lanjut JPU.

Pada 30 Juni 2016, majelis hakim menyatakan gugatan yang diajukan PT MMS tidak dapat diterima. Setelah putusan dibacakan, Santoso menghubungi Raoul terkait janjinya, karena telah ditagih Hakim Casmaya.

"Ahmad Yani menghubungi Santoso dan meminta agar Santoso mengambil uang USG28.000 di Kantor Wiranatakusumah Legal and Consultant," pungkasnya.

(Ari)
breaking news x