Interupsi saat Paripurna, PKS Bacakan Sepucuk Surat soal Toleransi

DPR (Foto: Ilustrasi)

DPR (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (19/10/2016) menggelar rapat paripurna untuk membahas Perjanjian Paris atas Konvensi Kerangka Kerja PBB. Namun, saat rapat paripurna dibuka, anggota Fraksi PKS Al Muzammil Yusuf langsung mengangkat tangan untuk interupsi.

Yang membuat ramai, interupsi itu tak ada kaitannya dengan agenda rapat melainkan terkait dengan pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) soal Surat Al Maidah Ayat 51.

"Saya hanya ingin menyampaikan satu hal yang menjadi hak saya sebagai dewan. Saya ingin menyampaikan soal suara seseorang tentang makna toleransi," ujar Muzammil di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (19/10/2016).

Muzammil menyuarakan pernyataan seorang doktor asal Universitas Brawijaya soal toleransi antarumat beragama. Garis besar isi surat tersebut yakni soal kegelisahan umat Islam terkait pernyataan Ahok yang dianggap menistakan ajaran Agama Islam karena melecehakan Surat Al Maidah Ayat 51.

Muzzamil mengingatkan kepada aparat penegak hukum sampai presiden untuk menghormati hukum yang sedang berjalan. Akibat ucapannya, Ahok juga dilaporkan sejumlah pihak ke kepolisian sehingga banyak pihak termasuk PKS sendiri meminta proses hukum terus berjalan meski Ahok telah meminta maaf.

"Saya ingatkan kepada presiden, Kapolri, negara kita negara hukum, hormati hukum. Pernyataan kami kalau ada anggota mari didukung, kita hanya tuntut jalur hukum sehingga tak perlu ditakutkan seperti apa yang dikatakan Hendropriyono. Tak perlu," ucapnya.

"Karena kita tak ingin onar. Kita hanya menjalankan Pancasila. Saya ajak takbir. Allahuakbar tiga kali walillah ilham," ungkap Muzammil yang mendadak membuat suasana rapat bergemuruh.

Berikut surat lengkap yang disampaikan Al Muzammil dalam rapat paripurna hari ini:

The Highest Result Of Tolerance Is Respect and Social Relations

Oleh dr. Gamal Albinsaid

Bismillahirrahmanirrahim...

Dua hari lalu, sebelum saya menerima penghargaan Empowering people Award dari Siemens di Jerman, salah seorang panitia mendatangi saya untuk menanyakan cara bersalaman diatas panggung karena pimpinan mereka adalah seorang wanita. Mereka menghormati ketika tahu saya tidak bersalaman dengan wanita karena tidak ingin bersentuhan dengan yang bukan muhrim saya. Saya cukup menempelkan kedua tangan saya, lalu menyapa mereka tanpa menyentuh tangannya. Mereka mengatur itu diatas panggung agar saya merasakan kenyamanan. Itulah toleransi.

 

Di perjalanan ke Inggris untuk kunjungan ke-15 perusahaan, pernah saya menaiki pesawat yang tidak menyediakan makanan halal. Setelah saya sampaikan kepada mereka saya hanya bisa makan makanan halal, mereka mencari sebuah mie instan yang memiliki label halal untuk saya. Itulah toleransi.

 

Ketika saya harus presentasi di California University yang bersamaan saat Salat Jumat, saya minta panitia menggeser jam presentasi kami, karena saya ingin melaksanakan Salat Jumat di sana. Mereka mengizinkan menggeser waktu presentasi saya. Itulah toleransi.

 

Ketika makan malam dengan Pangeran Charles di Istana Buckingham, mereka mengatur supaya saya mendapatkan makanan untuk vegetarian agar saya merasa nyaman. Itulah toleransi.

 

Di berbagai pengalaman itu, saya merasakan dan menyimpulkan bahwa bentuk toleransi adalah hormat. Bagi saya “The Highest Result of Tolerance Is Respect and Social Relations” toleransi itu adalah bentuk penghormatan kita pada perbedaan yang ada. Mulai dari hal yang kecil seperti makanan, cara berpakaian, cara beraktivitas, sampai hal yang besar soal agama, kitab suci, dan prinsip ketuhanan.

 

UNESCO dalam publikasinya “Tolerance: The Threshold of Peace” menyatakan social relations adalah salah satu indikator dari suksesnya toleransi di sebuah masyarakat. Oleh karenanya hasil dari toleransi adalah kenyamanan individu dan keharmonisan sosial.

 

Mau tidak mau, pemimpin berperan besar dalam menjaga, membangun, dan menciptakan toleransi yang baik. Tidak boleh pemimpin itu masuk atau memberikan komentar terhadap agama, kitab suci, prinsip ketuhanan, dan cara beribadah sebuah agama.

 

Peran pemimpin itu penting sekali dalam toleransi yang kita bangun. Kita rindu pemimpin yang mampu menyejukkan perbedaan kita dalam kesantunan, menciptakan keharmonisan diantara perbedaan dengan sikap saling menghormati dalam cinta kasih. Bukan pemimpin yang tidak mempedulikan perbedaan yang ada, menciptakan ketegangan dengan menghina agama, melecehkan kitab, membatasi cara beribadah.

 

Seorang pemimpin harus menghormati agama yang berbeda dengan tidak menilai atau mengomentari agama, tidak mengomentari kitab suci, dan tidak mengomentari cara beribadah. Lalu bagaimana keharmonisan bisa hadir jika pernyataan mengarah pada pelecehan atau penghinaan pada kitab suci dan isi kitab suci?

 

Teruntuk Pak Ahok, before you say something, stop and think how you’d feel if someone said it to you. Sungguh menyakitkan jika Anda merasakan bagaimana yang kami rasakan sebagai umat Islam, kitab yang kami baca tiap hari, kami jadikan pegangan hidup, kami hafalkan, kami baca saat banyak orang tidur, kami pelajari bertahun-tahun, lalu dengan mudahnya anda sebut sebagai alat melakukan kebohongan. Apakah Pak Ahok pernah menempuh jurusan tafsir hingga merasa berhak menafsirkan Alquran seenaknya? Pak Ahok, jangan hina kitab suci saya hanya untuk kepentingan politik Anda! Tidak ada sedikitpun kebohongan dalam Alquran!

Hormati Alquran kami!

 

“Don’t get so tolerant that you tolerate intolerance”(Bill Maher). Kita tidak boleh mentoleransi sebuah keintoleransian. Jangan salah mengartikan toleransi, “Tolerance does not mean tolerating intolerance”.

 

Saya sebenarnya tidak suka menuliskan atau memberikan tanggapan soal permasalahan politik, tapi nasehat Ayaan Hirsi Ali bahwa “tolerance of intolerance is cowardice (mentoleransi sebuah intoleransi adalah sikap pengecut)” cukup memantapkan hati saya untuk tidak diam.

Gagasan toleransi Ayaah Hirsi Ali itu sama dengan apa yang dikatakan Haji Abdul malik Karim Amrullah atau yang biasa kita kenal dengan Buya Hamka, “jika agamamu, nabimu, kitabmu dihina dan engkau diam saja, jelaslah ghiroh telah hilang darimu…. Jika ghiroh telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan. Sebab kehilangan ghiroh sama dengan mati…..”,

Ya, jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan. Itu jika diam.

 

Lalu bagaimana “jika membela orang yang menghina agamamu?” Guntur Romli dan Nusron Wahid mungkin bisa membantu saya menjawabnya.

 

10 Oktober 2016

(Ari)
breaking news x