ICMI Minta Isu SARA di Pilkada Dihentikan

YOGYAKARTA - Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Alwi Shihab meminta isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) tidak dibesar-besarkan. Terlebih lagi, sentimen tersebut bisa menjadi pemecah belah umat. Ia menilai, isu SARA sangat berbahaya apalagi masuk ranah politik dalam pemilihan kepala daerah.

"Kita kalau berdemokrasi jangan melakukan hal-hal yang bisa merusak kebersamaan. Soal SARA ini sangat bahaya, apabila dibesar-besarkan, termasuk dalam pilkada," katanya usai bertemu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan, Yogyakarta, Rabu 19 Oktober 2016.

Alwi berharap teks keagamaan tidak digunakan untuk melegitimasi kepentingan politik pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, ia meminta semua calon kepala daerah supaya menjaga ucapannya.

"Kita sudah hidup tentram, jangan sampai calon-calon (kepala daerah,red) ada statemen yang mungkin mengganggu yang lain, harua bisa lebih menyejukkan suasana," sambungnya.

Dikatakan Alwi, budaya demokrasi yang ada di Indonesia sudah cukup baik dimata dunia. Ia berharap, demokrasi yang sudah berjalan baik tidak tercoreng oleh hal-hal yang bisa merusak atmosfer yang kondusif.

Teks-teks keagamaan, kata dia, sebagaimana dicontohkan dalam alquran, sejatinya diturunkan sebagai rahmat untuk seluruh makhluk seisi alam. Alhasil, tidak tepat jika teks kitab suci dijadikan alat pembenar untuk mendiskreditkan kelompok tertentu.

"Alquran kan maunya 'rahmatan lil alamin', rahmat bagi seluruh makhluk Tuhan, termasuk tumbuh-tumbuhan. Jadi kita jadikan Al-Quran sebagai rahmat untuk semuanya," katanya. (sym)

(fds)
breaking news x