Menghasut di Muka Umum, Ketua KNPB Divonis 1 Tahun Penjara

Ketua KNPB Timika Steven Itlay disidang di PN Timika (Saldi/Okezone)

Ketua KNPB Timika Steven Itlay disidang di PN Timika (Saldi/Okezone)

TIMIKA - Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Timika, Steven Itlay, divonis satu tahun penjara, karena terbukti melakukan penghasutan di muka umum. Hukuman ini sesuai dengan tuntutan jaksa.

Vonis itu diputuskan majelis hakim dipimpin Relly D Behuku, SH, MH dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Kota Timika, Kabupaten Mimika, Papua.

"Terdakwa Steven Itlay telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menghasut secara lisan dan tulisan di muka umum," kata Relly saat membacakan putusan, Selasa (22/11/2016).

Majelis menyatakan, bahwa terdakwa Steven Itlay melanggar Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan. Terdakwa dinyatakan menghasut di depan umum dalam orasi menuntut referendum di halaman Gereja Jemaat Golgota, Kampung Bhintuka-SP 13, pada Selasa 5 April 2016. Unjuk rasa itu dihadiri masyarakat Papua dan simpatisan KNPB.

Saat itu, acara dibubarkan paksa oleh aparat gabungan TNI dan Polri. Belasan simpatisan KNPB ditangkap lalu ditahan. Saat itu, sempat terjadi pemukulan yang dilakukan simpatisan KNPB, Yus Wenda, terhadap Kapolres Mimika, AKBP Yustanto Tanto Mujiharso. Yus Wenda kemudian divonis sembilan bulan penjara.

Dalam putusannya, majelis hakim membebaskan Steven Itlay dari dakwaan melakukan tindakan makar sebagaimana diatur dalam Pasal 106 KUHP tentang Makar dan Pasal 110 KUHP tentang Upaya Kejahatan Terhadap Tatanan Negara.

Majelis hakim menetapkan barang bukti di antaranya berupa satu rangkap surat edaran dengan nomor 002.08/X/KNPB/Timika /V/tanggal 02 April 2016 yang di tandatangani Ketua KNPB Timika, PRD Wilayah Timika, dan Ketua PRD atas nama Pendeta Abihud Degey, untuk di musnahkan.

Atas putusan itu, Steven itlay yang didampingi kuasa hukumnya Gustaf Kawer mengatakan pikir-pikir apa menerima atau mengajukan banding atas putusan majelis hakim.

(sal)
Live Streaming
Logo
breaking news x