Perjanjian Damai Diratifikasi, Perang 52 Tahun Kolombia Berakhir

Seorang warga Kolombia mengibarkan bendera mendukung perdamaian antara pemerintah dengan FARC. (Foto: Reuters)

Seorang warga Kolombia mengibarkan bendera mendukung perdamaian antara pemerintah dengan FARC. (Foto: Reuters)

BOGOTA – Kongres Kolombia meratifikasi perjanjian damai dengan kelompok pemberontak FARC meski mendapat keberatan dari beberapa pihak. Diratifikasinya perjanjian baru ini menandai berakhirnya konflik berdarah antara kedua pihak yang telah berlangsung selama 52 tahun.

Diwartakan Reuters, Kamis (1/12/2016), perjanjian itu disetujui kongres pada Rabu malam, 30 November 2016 dengan suara bulat. Keberatan datang dari anggota parlemen dari Partai Pusat Demokrasi Uribe pimpinan mantan Presiden Alvaro Uribe. Mereka melakukan walk out sebagai bentuk protes atas perjanjian yang dinilai masih terlalu lunak untuk para pemberontak.

Para pendukung Uribe menyatakan perjanjian baru itu masih memberikan terlalu banyak kelonggaran kepada anggota FARC. Perjanjian baru itu juga dianggap tidak berfungsi sebagai pencegah bagi kelompok lain yang terlibat dalam kejahatan tersebut.

Presiden Juan Manuel Santos dan pimpinan pemberontak Rodrigo Londono telah menandatangani perjanjian yang telah direvisi tersebut dalam sebuah upacara pekan lalu. Sebelumnya, warga Kolombia menolak perjanjian damai pertama yang dianggap terlalu lunak melalui referendum.

Pemerintah Kolombia dan FARC telah bernegosiasi selama empat tahun di Kuba untuk mengakhiri konflik terpanjang dalam sejarah kawasan Amerika Latin. Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 220 ribu orang dan memaksa jutaan rakyat Kolombia mengungsi dari negaranya.

(dka)
breaking news x