Presiden Korsel Kunjungi Kampung Halaman Usai Isu Pemakzulan Merebak

Presiden Korsel Park Geun-hye dalam kunjungan ke Daegu. (Foto: Reuters)

Presiden Korsel Park Geun-hye dalam kunjungan ke Daegu. (Foto: Reuters)

SEOUL - Untuk pertama kalinya, Presiden Korea Selatan (Korsel) Park Geun-hye muncul di hadapan warganya usai isu pemakzulan dirinya merebak. Sementara itu di Parlemen, kelompok oposisi bersikeras agar ia mundur dari jabatannya setelah skandal politiknya terungkap.

Reuters, Kamis (01/12/2016) melansir, beberapa jam setelah Presiden Korsel Park Geun-hye menyatakan siap mundur dengan syarat tertentu, sebuah kebakaran nyaris melahap habis kios-kios pasar tradisional di Daegu, hanya beberapa blok dari rumah kelahirannya. Hari ini, Park mengunjungi pasar berusia satu abad tersebut.

Sementara itu, Belfast Telegraph, melaporkan, pihak kepolisian telah menangkap seorang pria 48 tahun yang diduga menjadi membakar tempat kelahiran almarhum ayah Park karena tidak puas atas penolakan presiden Korsel tersebut untuk mundur dari jabatannya. Tugu peringatan untuk mendiang Presiden Park Chung-hee dan istrinya, Yook Young-soo, tersebut nyaris habis terbakar. Monumen ini berada di tenggara kota Gumi dan merupakan objek wisata terkenal.

Provinsi Daegu dikenal sebagai basis pendukung besar Presiden Korsel Park Geun-hye. Ia empat kali terpilih menjadi legislator nasional sebelum akhirnya menjadi presiden pada 2013.

Kedatangan Park disambut baik oleh masyarakat Daegu. Mereka bahkan meneriakkan nama presiden Korsel tersebut dengan lantang. "Park Geun-hye! Park Geun-hye!" Di antara warga sibuk mengabadikan sang presiden dengan kamera ponsel mereka. Beberapa lansia tampak menangis dan menyeka air mata mereka. Warga Daegu terlihat setia mendukung Park meskipun masyarakat lainnya sibuk menyerukan penolakan.

Pada Selasa 29 November, Presiden Korsel telah menyatakan sikapnya. Ia akan mundur sebagai presiden apabila pengalihan kekuasaan secara aman sudah berjalan. Hal ini memicu kritik keras dari partai oposisi yang menganggap tindakan Park sebagai upaya untuk mengulur waktu dan bertahan dari isu korupsi yang menerpanya.

Para anggota partai oposisi terus menyuarakan pemakzulan terhadap Park. Tidak hanya dari lawan politik, suara-suara meminta Park untuk mundur juga dikeluarkan oleh para anggota parlemen yang berasal dari partai penguasa. Tampaknya skandal ini membuat perpecahan dari kubu Park sendiri yang harusnya mendukungnya.

(rfa)
breaking news x