Akankah Presiden Korsel Dimakzulkan?

Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye. (Foto: BBC )

Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye. (Foto: BBC )

SEOUL - Parlemen Korea Selatan (Korsel) hingga kini masih terus disibukkan dengan perselisihan terkait pemberhentian Presiden Park Geun-hye. Jika kesepakatan pemakzulan Park disepakati, maka Park akan menjadi Presiden Negeri Gingseng pertama yang diturukan dari jabatannya sepanjang sejarah Korsel. Hal ini mengingatkan tentang pemakzulan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, pada 1998. Namun ketika itu, Bill tetap bertahan di Gedung Putih meskipun mendapat protes. Protes tersebut selesai pada 1990 dan berakhir dengan pembatalan pemakzulan Bill. Ia memenangkan 3 banding 2 suara di parlemen yang membuatnya berhasil bertahan

Dilansir BBC, Jumat (2/12/2016), jika menilik kasus Park Geun-hye, Presiden Korsel tersebut sebenarnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan mayoritas suara di parlemen yang dapat membuatnya terhindar dari pemakzulan. Secara keseluruhan, anggota parlemen terdiri dari 300 orang dan Park membutuhkan 200 suara agar bisa bertahan. Saat ini, ada 172 anggota parlemen dari oposisi yang ingin Park diturunkan dari jabatannya. Namun, blok oposisi masih membutuhkan 28 suara dari total 128 orang anggota parlemen konservatif Partai Nasional untuk bergabung dengan mereka. Pembahasan terkait pemakzulan Park akan berlangsung mulai hari ini, Jumat (2/12/2016) hingga 9 Desember 2016.

Nantinya, jika parlemen Korsel mencapai kesepakatan untuk menurunkan Park dari jabatan, proses tersebut masih akan berlangsung panjang. Perlu persetujuan enam dari sembilan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Korsel uhtuk dapat benar-benar menurunkan Park dari jabatannya. Bahkan, jika rakyat benar-benar ingin mengakhiri pemerintahan Park, hakim mahkamah konstitusi bisa membatalkan pemakzulan tersebut dan membuat Park tetap berkuasa.

Pasca-mencuatnya skandal korupsi, Park meninggalkan tugasnya. Kekuasaan sementara dipegang oleh perdana menteri. Jika hakim MK tidak mendukung pemakzulan Park, ia akan tetap menjadi Presiden Korsel hingga tahun depan. Di sisi lain, apabila Park berhasil dimakzulkan, ia bisa saja diadili. Sebelumnya, jaksa telah mengungkapkan bahwa Park diduga kuat terlibat skandal korupsi yang melibatkan sahabat lama Park, Choi Soon-sil.

Sebagai bentuk pembelaan, Park membantah telah melakukan kesalahan. "Terkait masalah yang muncul, saya pikir kami tengah mengejar proyek publik dan itu sama sekali tidak ada unsur kepentingan pribadi, dan saya tidak mencari keuntungan dengan cara apa pun," ujar Park. Keputusan Park bersedia mundur setelah transfer kekuasaan dilakukan dengan aman, dianggap sebagai upaya perpanjangan negosiasi bagi Park untuk membujuk anggota parlemen dari partainya sendiri agar mendukungnya mendapat pemberhentian secara terhormat.

Keputusan dan permintaan maaf Park tidak lepas dari kritikan masyarakat. Park mengungkapkan bahwa ia merasa bersalah telah menyakiti hati rakyatnya. "Saya menyebabkan kesedihan bagi masyarakat Korea. Saya tahu 100 permintaan maaf tidak akan cukup untuk menghapus kekecewaan dan kemarahan mereka. Kesalahan terbesar saya adalah tidak mampu mengelola orang-orang di sekitar saya," tambahnya.

Sebelumnya, blok oposisi di Parlemen Korsel mendesak Partai Saenuri untuk segera bergabung agar proses pemakzulan terhadap Presiden Park Geun-hye dapat segera dilangsungkan. Desakan tersebut muncul usai jutaan warga melakukan unjuk rasa agar sang presiden mengundurkan diri. Oposisi sedianya akan menentukan mosi pemakzulan terhadap Presiden Park pada Jumat 9 Desember 2016. (rav)

(rfa)
breaking news x