Cerita Farhan, Tak Pernah Ikut Demo tapi Begitu Alquran Diusik Rela Turun ke Jalan

Massa aksi damai 212 di Stasiun Bekasi (foto: Djamhari/Okezone)

Massa aksi damai 212 di Stasiun Bekasi (foto: Djamhari/Okezone)

BEKASI - Aksi damai Bela Islam III menuntut penegakkan hukum secara adil terhadap tersangka kasus dugaan penistaan agama, Gubernur non-aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), berlangsung hari ini di Lapangan Monas, Jakarta Pusat. Massa datang dari berbagai daerah, termasuk Bekasi.

Dari sekian banyak massa yang berangkat dari Bekasi, salah satunya adalah Abu Farhan. Ini merupakan kedua kalinya ia turun ke jalan. Pertama saat aksi damai 4 November. Yang membuat ia berani turun, karena tidak terima kitab sucinya yakni Alquran dinistakan.

“Dari dulu saya tak pernah ikut-ikut demo turun ke jalan. Tapi karena ini menyangkut penistaan kepada Alquran yang merupakan kitab suci agama kami, saya rela turun,” kata Abu Farhan ditemui di Stasiun Bekasi, Jumat (2/12/2016).

Pria yang tinggal di Perumahan Century, Pekayon Bekasi, Selatan ini mengatakan, perjalanannya menuju silang Monas, Jakarta Pusat tanpa ada paksaan dari pihak manapun. “Tak ada yang mengatur saya. Ini murni dari hati saya untuk turun bersama umat Islam lainnya,” tegas pria yang sehari-hari bekerja sebagai guru mengaji ini.

Abu Farhan berangkat ke Jakarta bersama jamaah Masjid Al-Muhajirin, Perumahan Century yang berjumlah 35 orang. “Kami bukan membawa nama Ormas ikut aksi demo 212 ini, tapi hanya bersama dengan jamaah masjid di perumahan,” ujar Abu Farhan.

Di lokasi yang sama, koordinator rombongan Masjid Al-Mhajirin, Tejo, mengaku kalau aksi yang diikuti jamaah masjid murni keinginan masing-masing jamaah. Mengenai akomodasi bersumber dari sumbangan secara sukarela dari jamaah.

“Anggaran untuk persiapan hari ini, dari sumbangan sukarela jamaah yang dipakai untuk biaya akomodasi kami berangkat ke Monas diantaranya, seperti, makanan, minuman dan juga tiket kereta apinya,” jelas Tejo.

(ris)
breaking news x