Polisi Periksa Bupati Halmahera Selatan Terkait Bendera China

ilustrasi (Foto: Ist)

ilustrasi (Foto: Ist)

TERNATE - Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Maluku Utara menjadwalkan pemeriksaan Bupati Halmahera Selatan Bahrain Kasuba terkait dengan pengibaran bendera China di Pulau Obi beberapa waktu lalu.

"Rencananya bupati akan diperiksa dalam kasus penaikan bendera Tiongkok di Pulau Obi, Halmahera Selatan pada Jumat, 25 November 2016," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Maluku Utara Kombes Pol Dian Harianto di Ternate, Jumat (2/12/2016).

Dia mengatakan, pihaknya sudah menyurati keponakan gubernur Malut itu, dan dijadwalkan 5 Desember 2016 dilakukan pemeriksaan Bupati Bahrain sebagai saksi. Selain itu, peristiwa bendera China yang terdapat gambar lima bintang bisa berkibar pada peletakan batu pertama pembangunan smelter PT Wanatiara Persada.

Pada kasus ini sudah 14 saksi telah diperiksa dan ini baru tahap penyelidikan, mereka yang dianggap mengetahui soal kasus ini akan diperiksa, diambil keterangannya, termasuk soal pemberian izin hingga siapa inisiatornya. Ia menegaskan pihaknya akan mendalami kasus ini hingga terang benderang sampai ke inisiator pemberi izin.

"Kami komitmen mendalami kasus ini secara transparan dan serius. Motif pasti nanti tunggu hasil pemeriksaan dan intinya siapa yang member izin penaikan bendera asal negara tirai bambu saat peletakan batu pertama akan dimintai pertanggung jawaban," kata Dian.

Selain Bahrain Kasuba, polisi juga memeriksa Mester Chan. Dia (Mester Chan) juga diperiksa Senin depan. "Untuk gubernur belum sampai ke sana, tapi kita sudah agendakan untuk pemeriksaan setelah balik dari Turki, jika semua saksi sudah selesai diperiksa," katanya.

Sementara PT Wanatiara Persada melalui Kepala Kantor Perwakilan Ternate sudah meminta maaf atas kejadian itu. Pemprov Maluku Utara menyatakan, pengibaran bendera China dengan Bendera Merah Putih saat peletakan batu pertaman pembangunan Smelter PT Wanatiara Persada karena semata-mata kesalahan komunikasi.

Sebelumnya Kabag Pemberitaan Biro Humas dan Protokoler Pemprov Malut, Rahwan Suamba mengatakan, saat itu ada tiga bendara RI, RRC dan bendera perusahaan dikibarkan di lokasi Pelabuhan Jeti Saguh di saat perusahaan akan melakukan batu pertama pembangunan Smelter PT Wanatiara Persada.

Dia mengatakan, kala itu, para wartawan yang bersama-sama rombongan melakukan peliputan pembangunan smelter di Pulau Obi melihat bendera China yang berada di samping bendera RI berukuran yang sama, sehingga terjadi miss-komunikasi.

Dia menyatakan, pemasangan dua bendera itu karena ada kerja sama Provinsi Malut dan Provinsi Guangzhou, di mana ada kegiatan tersebut diwakili Sekda Guangzhou Wu Zhi Bin bersama Atase Perdagangan RRC.

(put)
breaking news x