Miris, 33% Mahasiswa Makassar Pernah Berhubungan Seks

Foto: Ilustrasi Okezone

Foto: Ilustrasi Okezone

MAKASSAR - Civic Institute bersama dengan Keluarga Mahasiswa Sosiologi Fisip Universitas Hasanuddin telah melakukan penelitian mengenai perilaku seks mahasiswa di Kota Makassar.

Terungkap bahwa sebanyak 33 persen mahasiswa mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Parahnya lagi, hampir semua mahasiswa yang pernah melakukan seks tersebut tanpa alat kontrasepsi.

"Penelitian yang dilakukan sejak bulan Maret 2016 menggunakan metode angket terhadap 400 orang mahasiswa di perguruan tinggi negeri dan swasta se-Kota Makassar. Pada indikator tindakan terungkap bahwa sebanyak 132 orang (33 persen) mengaku pernah melakukan hubungan seksual, 92 orang di antaranya pernah melakukan hubungan seks tanpa alat kontrasepsi dan 48 di antaranya pernah melakukan aborsi," ungkap peneliti Civic Muhammad Taufik saat mempresentasekan hasil riset ilmiah, dalam rangka peringati hari AIDS sedunia di Fisip Unhas.

Secara sederhana, lanjut Taufik, jika ada 10 orang mahasiswa yang pernah melakukan hubungan seksual, 7 di antaranya pernah melakukan seks tanpa alat kontrasepsi dan 4 di antaranya pernah melakukan aborsi.

"Dapat ditarik kesimpulan bahwa mahasiswa Makassar cenderung melakukan seks berisiko, baik penyakit yang diakibatkan hubungan seks maupun kehamilan yang tidak diharapkan. Perilaku seksual berisiko yakni jika responden pernah berciuman bibir pada tingkatan awal dan berhubungan seks pada tingkatan lanjutan. Sehingga penelitian ini mengungkapkan bahwa persentase seks berisiko mencapai 33,95 persen. Responden laki-laki lebih cenderung melakukan seks berisiko dengan persentasi mencapai 23,1 persen dibanding perempuan yaitu 10,85 persen," imbuh Taufik.

Penggambaran perilaku seks mahasiswa dalam penelitian ini, Taufik menyebutkan ditentukan beberapa variabel yaitu pengetahuan, sikap, tindakan seks, pengalaman dan faktor pendorong. Selain itu, ia juga mengatakan penelitian ini merupakan inisiatif dari kedua lembaga untuk melakukan kajian mengenai perilaku seks mahasiswa.

"Dari data yang diperoleh tim peneliti, rata-rata responden cukup memiliki pengetahuan seksual baik bentuk dan resiko yang ditimbulkan. Sebanyak 78,75 persen responden menjawab ‘salah’ pada pernyataan ‘penyakit menular seksual tidak dapat tertular lewat hubungan seks’. Begitu pula pada pernyataan bahwa ‘seks adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan didasari oleh keinginan (libido) dengan tujuan mencari kenikmatan’ sebanyak 77, 25 persen menjawab ‘benar’," tambah peneliti jebolan Unhas ini.

Dari motif yang menjadi pendorong melakukan hubungan seks mahasiswa di Makassar, jika didasari rasa ingin tahu sebanyak 11,25 persen (45) responden menjawab sangat setuju setuju, 20,75 persen (83) menjawab setuju, 21,75 persen (87) responden menjawab netral, 25 persen (100) menjawab tidak setuju dan sisanya 21,25 persen (85) menjawab sangat tidak setuju.

"Motif ini lah yang paling banyak responden menjawab setuju atau sangat setuju. Ada pun motif-motiflainnya yaitu ingin mendapat kenikmatan, ingin membuktikan rasa sayang, ketidaktahuan risiko yang ditimbulkan, dipaksa oleh pasangan, dapat diterima dalam pergaulan, diberi uang atau imbalan lainnya dan karena dirangsang atau dalam pengaruh obat atau zat lainnya," ungkap Taufik

Di sesi akhir pemaparannya, Taufik berharap penelitian ini dapat menjadi perintis kajian-kajian mengenai perilaku seks yang lebih mendalam. Sebab, perilaku seks tidak bisa lagi dianggap tabu dan telah menjadi ancaman nyata bagi generasi bangsa, bahkan generasi yang terpelajar sekalipun.

Salah satu pakar sosiologi Unhas Arsyad yang hadir menjadi pembicara dalam kegiatan itu, menyebut penelitian ini dapat menjadi acuan untuk memandang perilaku seksual mahasiswa. Menurutnya, berbagai faktor motif mahasiswa tersebut tentu sangat beragam.

“Perilaku seks bukan lagi dilihat sebagai gejala sosial, namun seks dalam kajian sosiologi harus dilihat dalam konteks yang lebih luas lagi. Misalnya melihat seks sebagai komoditi, fenomena ini tidak luput pada lingkungan kampus, mulai dari kepentingan ekonomi sampai pada transaski nilai dengan seks,” ungkap Arsyad.

(sus)
breaking news x