Siswa SMA Buat Miniatur Kereta Api Beromset Jutaan Rupiah

Foto: Zen Arifin/Okezone

Foto: Zen Arifin/Okezone

MOJOKERTO - Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Kata bijak itulah yang menjadi pedoman Dimas Anggoro Gauli Prihanarta. Remaja berusia 18 tahun itu mampu membiayai hidupnya sendiri.

Kegigihan mampu mengantarnya ke gerbang kesuksesan. Bagaimana tidak, miniatur kereta api (KA) buah karyanya mampu bersaing dengan buatan pabrikan. Bahkan, produksinya kini sudah merambah ke berbagai kota di Indonesia.

Di rumahnya di Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Dimas memproduksi miniatur gerbong KA. Tak seperti remaja lainnya yang memilih bermain atau nongkrong di kafe, seusai pulang sekolah Dimas justru terlihat sibuk di teras rumahnya.

"Tadi ujian sekolah, makanya pulang cepat. Sehingga ada banyak waktu untuk mengerjakan pesanan miniatur KA," kata Dimas kepada Okezone, belum lama ini.

Jari-jemarinya, terlihat begitu terampil. Satu persatu bahan miniatur KA dipersiapkannya. Menggunakan alat sederahana berupa gergaji besi, cutter serta gunting berukuran sedang, pipa paralon berbahan plastik, dipotongnya sesuai ukuran gerbong KA berskala 1:80.

Potongan pipa itu lantas disambungkan dengan gerbong berbahan akrilik yang sebelumnya didesain sedemikian rupa. Selanjutnya, Dimas membuat pernik-pernik berupa kursi KA. Menggunakan bahan kimia berupa resin, Dimas mencetak sendiri pernak-pernik yang terdapat dalam gerbong KA.

Satu demi satu, miniatur gerbong KA itu pun terbentuk dan siap untuk dilakukan pengecatan. Setelah kering, baru pernak-pernik berupa stiker dan roda dipasang pada miniatur KA itu. Sebelum akhirnya di kirim kepada para pemesan dan menghasilkan rupiah.

"Untuk membuat satu rangkaian ini, butuh waktu tiga hari. Namun kalau waktunya longgar, sehari bisa jadi. Satu rangkaian ada 4 gerbong. Tapi tergantung dengan pesanan juga," tambah siswa SMA Puri, Mojokerto ini.

Usaha membuat miniatur gerbong KA ini sudah ditekuni Dimas sejak tahun 2014. Awalnya, anak kedua dari tiga bersaudara itu selalu gagal untuk membuat miniatur gerbong KA dari bahan paralon ini. Namun, berkat ketekunannya ia mampu keluar dari jurang kegagalan itu.

"Sebenarnya sejak tahun 2013 sudah mulai membuat dari bahan paralon, tapi selalu gagal. Namun, saya terus mencoba hingga akhirnya berhasil. Dari itu kemudian saya memproduksi miniatur gerbong KA ini," tutur siswa yang kini duduk di bangku kelas XII jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Dimas mengaku, ilmu membuat miniatur KA itu diperolehnya secara otodidak. Berbekal informasi di internet, Dimas lantas mencoba untuk membuat miniatur gerbong KA itu. Di dunia maya itu juga, Dimas lantas bertemu dengan beberapa orang komunitas penyuka miniatur gerbong KA.

"Tidak ada yang mengajari, belajarnya dari internet. Kemudian saya kenal dengan teman yang juga membuat miniatur seperti ini. Malah dipinjami masternya untuk membuat cetakan tempat duduknya," jelasnya sembari menunjukkan alat pencetak tempat duduk miniatur KA yang terbuat dari silikon.

Ia pun tak perlu repot-repot untuk memasarkan miniatur gerbong KA buatannya. Sebab, nama besar Dimas sudah tak asing di kalangan pencinta minitur KA. Selain itu, ia juga bisa meraup keuntungan sekira Rp3 juta hingga Rp4 juta dari hasil karyanya itu setiap bulannya.

"Jualnya lewat facebook. Kebanyakan dari Jakarta, Surabaya dan luar jawa. Harapan saya usaha ini bisa lebih besar lagi. Saya juga ingin melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan desain, sehingga nanti bisa membuat desain gerbong KA yang lebih bagus lagi," harap Dimas.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x