Cerita dari Pesantren Al-Mawardi, Anak TKI hingga Kemampuan Dua Bahasa

Foto: Zen Arivin/Okezone

Foto: Zen Arivin/Okezone

SURABAYA – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mawardi di Dusun Sanggar 1, Desa Pasanggar, Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur baru berdiri pada 4 tahun lalu. Pondok pesantren ini terbilang modern karena menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab sebagai alat komunikasi sehari-hari.

Baik yang masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) maupun yang sudah duduk di bangku SMA, wajib menggunakan dua bahasa tersebut bila ingin berkomunikasi satu sama lain. Penggunaan kedua bahasa ini adalah kewajiban yang harus dipatuhi para santri.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mawardi, K Subairi Sya’roni, berdirinya pondok pesantren ini berangkat dari keperihatinan akan banyaknya masyarakat di sekelilingnya yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia maupun di Arab Saudi. Sehingga banyak anak usia sekolah yang tidak terurus.

”Sebenarnya berdirinya pesantren ini untuk menekan pergaulan bebas, sebab disini banyak orang tua yang jadi TKI, sehingga banyak anak usia sekolah yang tak terurus dengan baik,” ungkap K. Subairi kepada Okezone, Senin (9/1/2017).

Sementara penerapan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab bertujuan agar santri memiliki bekal kemampuan bahasa yang bagus. Jika nantinya mereka memutuskan untuk melanjutkan tradisi orang tuanya menjadi TKI, bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak dan tidak menjadi kuli seperti orang tuanya. Kemudian juga memiliki bekal ilmu agama yang bagus.

”Melihat background orang tuanya yang menjadi TKI, maka tidak menutup kemungkinan anaknya juga menjadi TKI. Sehingga untuk menjawab tantangan itu, kami menerapkan dua bahasa. Agar nanti mereka tidak menjadi kuli seperti orang tuanya,” imbuh Alumnus STAI Al-Khairat Pamekasan itu.

Untuk bisa menjalankan program tersebut, para siswa harus berbicara menggunakan bahasa inggris dan bahasa arab bersama teman-temannya di bawah pengawasan pengurus pondok. Mereka juga mendapatkan tambahan pelajaran bahasa inggris tiap pagi dan malam hari. Bahkan sebelum tidur mereka diminta menghafal beberapa kosa kata.

”Keesokannya mereka harus menyetor hafalan kosa kata kepada pengurus, termasuk mempraktekkan kosa kata yang dihafal sehabis sholat subuh dengan cara speaking bersama temannya,” tambahnya.

Selain pelajaran bahasa inggris, mereka juga dibekali dengan mata pelajaran agama dengan kajian kitab setelah sholat lima waktu. Keseimbangan antara ilmu agama dan pengetahuan umum untuk membekali santri agar mereka mampu menghadapi tantangan zaman di masa yang akan datang. (ris)

(kha)
Live Streaming
Logo
breaking news x