Info Hoax Bermuatan Kebencian Marak Dimanfaatkan saat Pesta Demokrasi

Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Berita bohong atau hoax belakangan marak muncul dan merugikan masyarakat karena menyajikan berita yang data, kebenaran serta sumbernya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi di masa pesta demokrasi seperti pemilihan Presiden dan Gubernur.

Menurut Sosiolog Universitas Nasional (Unas) Sigit Rochadi, fenomena maraknya berita hoax di saat pemilu lantaran banyak dimanfaatkan oleh oknum yang ingin menyebar kebencian dan menghakimi pihak yang berbeda kepentingannya.

"Hoax juga bermuatan kebencian, biasanya penebar ingin menyesatkan dan menghakimi pihak yang berbeda etnik, agama dan kelompok politik. Mencitrakan positif kandidatnya dengan mencitrakan negatif pesaingnya, marak dilakukan di Pilpres dan Pilkada," kata Sigit saat berbincang dengan Okezone, Rabu (11/1/2017).

Sebab itu, sang penebar hoax telah mengincar orang-orang atau kelompok yang rentan, yaitu mereka yang buta teknologi informasi dan labil. "Info hoax bertujuan menyesatkan kelompok dan merusak integritas kelompok sasaran itu yang pada akhirnya menguasainya," imbuhnya.

Dengan maraknya informasi bohong ketika pemilu, lanjut Sigit, maka perlu ada perhatian khusus dari para pemimpin negara dan kelompok untuk menyaring segala informasi yang beredar di masyarakat. Sebab, perkembangan teknologi tak akan bisa dihindari, sehingga jangan sampai hanya menjadi penonton atas fenomena tersebut.

"Itu berarti, komunikasi sosial mengalami transisi yang cepat. Dari berbasis lembaga sosial seperti lembaga agama dan lembaga masyarakat ke media maya. Kegagapan para pemimpin lembaga ditunjukkan dengan tidak segera mengambil tindakan dan menjadi penonton atas perang hoax ini," tutupnya.

(aky)
Live Streaming
Logo
breaking news x