Puluhan Anak di Daerah Ini Terancam Putus Sekolah

Foto: Ilustrasi Okezone

Foto: Ilustrasi Okezone

BANYUASIN - Puluhan anak tamatan Sekolah Dasar Negeri di kawasan perairan Sungai Sembilang Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan setiap tahun terancam putus sekolah dan tak bisa menyelesaikan program wajib belajar sembilan tahun.

"Anak-anak tamatan Sekolah Dasar yang bermukim di kawasan perairan Dusun IV Sungai Sembilang terhambat melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) disebabkan jauhnya jarak tempuh dengan tempat tinggal mereka, membutuhkan waktu dua jam lebih perjalanan," kata Suharmo, warga Sungai Sembilang, Kamis (12/1/2017).

Bukan hanya persoalan jarak tempuh saja, tetapi juga mahalnya biaya transportasi dari Dusun IV Sungai Sembilang ke Pusat Kecamatan Sungsang, sehingga menjadi beban berat bagi warga perairan.

Untuk biaya transportasi pulang dan pergi melalui sungai setidaknya membutuhkan Rp50 ribu per hari, kata Suharmo.

"Jika anak-anak setelah lulus SD harus melanjutkan ke SMP di pusat kecamatan di Sungsang harus menggunakan transportasi kendaraan mobil membutuhkan biaya Rp70 ribu per hari," katanya.

Kondisi ini selalu menjadi ancaman putus sekolah bagi anak-anak yang hidup di wilayah perairan Dusun IV Sembilang Dangku sangat tinggi," ujar Asmawi salah satu pendidik di SDN 17 Dusun Sembilang Dangku.

"Anak-anak tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP sebab di dusun ini hanya ada sekolah dasar saja," katanya.

Masyarakat Dusun IV Sembilang mengharapkan pembangunan SMP dan SMA, karena pada tahun 2013 sempat diajukan pembangunan SMP satu atap, namun tidak terealisasi.

"Di samping bangunan SDN 17 ini sudah dibuat pondasi untuk dibangun lokal SMP satu atap, namun tidak dilanjutkan dengan alasan yang tidak jelas. Sementara total 26 siswa yang lulus per tahunnya dari sekolah dasar hanya dua anak saja meneruskan ke tingkat lanjutan," katanya.

Sementara Mirna, salah satu siswi SDN 17 Dusun Sembilang Dangku berharap kepada Pemerintah Kabupaten Banyuasin bisa segera mendirikan sekolah lanjutan tingkat pertama atau SMP di sini.

"Saya bercita-cita menjadi guru akan kehilangan harapan jika tidak didukung oleh pemerintah dengan mendirikan SMP di sini," kata Mirna.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x