Myanmar dan Bangladesh Mulai Perundingan untuk Rohingya

Ilustrasi. Pengungsi Rohingya di Bangladesh. (Foto: AFP)

Ilustrasi. Pengungsi Rohingya di Bangladesh. (Foto: AFP)

DHAKA – Pemerintah Myanmar setuju membuka percakapan dengan Bangladesh soal 65 ribu etnis Rohingya yang kabur ke negaranya belakangan ini. Kanselir atau Penasihat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi mengirimkan utusan khusus ke Dhaka pekan ini untuk memulai perundingan tersebut.

Direktur Jenderal Departemen Organisasi dan Ekonomi Internasional Kementerian Luar Negeri Myanmar, Aye Aye Soe menyatakan, kedua negara akan mengawali perundingan solusi ini dengan melakukan proses identifikasi dan verifikasi. Ia mengungkap, sejauh ini belum ada tenggat waktu untuk perundingan ini.

“Jika pemerintah Bangladesh menemukan di antara pengungsi itu ada yang dari Myanmar, mereka akan dipulangkan pada waktu yang ditentukan,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (13/1/2017).

Kalimat di atas sempat membingungkan. Pasalnya, diketahui komunitas Rohingya adalah penduduk di dunia yang tidak memiliki kewarganegaraan. Terkait ambiguitas ini, Soe menjelaskan bahwa kemungkinan ada warga dalam Myanmar di antara puluhan ribu pengungsi yang mengaku rombongan Rohingya tersebut. Mereka yang terdaftar sebagai warga negara Myanmar itulah yang akan dipulangkan.

Soe menyebut dulu kasus serupa pernah terjadi. Setelah proses verifikasi, benar saja ada 2.415 orang Myanmar yang ikut melarikan diri ke Bangladesh. Perempuan diplomat itu menegaskan, untuk sekarang kedua pemerintah akan berfokus mengidentifikasi dan memverifikasi kewarganegaraan 65 ribu orang yang lari dari Myanmar akibat konflik kekerasan selama tiga bulan terakhir.

Kedatangan utusan khusus dari Myanmar disambut baik oleh Menteri Luar Negeri Bangladesh, Ah Mahmood Ali. Dia yakin kunjungan ini akan mempercepat proses pemulangan dan langkah-langkah selanjutnya yang dirasa perlu.

“Proses pemulangan ini tentu akan membawa kedua negara menuju langkah selanjutnya lebih cepat dan cukup jelas. Kami ingin melihat mereka keluar dari Bangladesh secepatnya,” tambah Ali. Dia berharap para pengungsi itu segera pergi dari perbatasan agar pariwisata mereka bisa berkembang lagi.

Perjanjian ini menandai titik terang dalam hubungan bilateral kedua negara. Selama ini kemitraan di antara Myanmar dan Bangladesh memburuk akibat isu Rohingya. Sebanyak 500 ribu Muslim Rohingya kini tinggal di Bangladesh akibat penyiksaan tak berujung sewaktu menjadi pelarian di Myanmar.

(Sil)
Live Streaming
Logo
breaking news x