Rencana China Ubah Sejarah Perang Picu Kemarahan Jepang

Bendera Jepang dan China (Foto: AFP)

Bendera Jepang dan China (Foto: AFP)

BEIJING – Pemerintah China telah menginstruksikan agar semua buku pelajaran sejarah ditulis ulang. Beijing ingin mengubah jangka waktu perang antara China-Jepang dari delapan tahun menjadi 14 tahun. Langkah tersebut diyakini akan memicu kemarahan di pihak Tokyo.

Selama beberapa generasi di China dikenal dengan nama ‘Perang Delapan Tahun Melawan Agresi Jepang’ yang secara resmi diakui terjadi pada rentang 1937-1945. Akan tetapi, Presiden China Xi Jinping meminta konflik tersebut dinamai ulang menjadi ‘Perang 14 Tahun Melawan Agresi Jepang’.

Pemerintah Negeri Tirai Bambu juga menginstruksikan agar buku pelajaran sejarah untuk merevisi perang tersebut berlangsung pada 1931-1945. Dengan demikian, China mengakui bahwa perang dimulai pada musim semi 1931 ketika tentara Kekaisaran Jepang menginvasi Manchuria. Selama ini, perang China-Jepang diakui dimulai di Jembatan Marco Polo pada 1937.

Atase pers Kementerian Luar Negeri Jepang Yasuhisa Kawamura mengatakan China tidak memiliki kuasa untuk memutuskan kapan perang tersebut dimulai. “Sangat penting bagi Jepang dan China untuk menunjukkan mereka tidak punya fokus berlebihan pada masa lalu yang kelam,” ujarnya, seperti dimuat The Guardian, Sabtu (14/1/2017).

Kritik serupa pernah dilancarkan kepada pemerintah Jepang yang juga ingin menghapus agresi militer dari buku-buku sejarah. Pada 2007, Perdana Menteri Shinzo Abe memerintahkan seluruh buku sejarah mengubah referensinya menjadi tragedi bunuh diri selama Perang Dunia II, bukan penjajahan Jepang.

Sayangnya, langkah tersebut harus menyertakan pandangan dari sejumlah ahli sejarah di Negeri Sakura, termasuk jumlah resmi korban Pembantaian Nanking pada 1937 yang dilakukan tentara Jepang. Penghitungan resmi China menyebut jumlah korban tewas mencapai 300 ribu orang. Akan tetapi, ahli sejarah Jepang menyebut angka tersebut dilebih-lebihkan.

(war)
Live Streaming
Logo
breaking news x