Image

Trump: Saya Ingin Israel Bertindak Masuk Akal di Tepi Barat

PM Israel Benjamin Netanyahu di kediaman Presiden AS Donald Trump. (Foto: Reuters)

PM Israel Benjamin Netanyahu di kediaman Presiden AS Donald Trump. (Foto: Reuters)

WASHINGTON DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa perluasan permukiman Israel di kawasan pendudukan tidak membantu proses perdamaian. Hal tersebut diungkapkannya dalam wawancara dengan surat kabar Israel, Hayom, yang diterbitkan pada Jumat 10 Februari 2017.

"Saya ingin Israel bertindak masuk akal dalam proses perdamaian, dan hal itu akhirnya akan terjadi setelah bertahun-tahun," tuturnya, seperti dikutip dari BBC, Minggu (11/2/2017).

Ia melanjutkan, "Dan mungkin bahkan ada kemungkinan perdamaian yang lebih besar dari sekadar Israel dan Palestina. Saya ingin kedua belah pihak bertindak masuk akal dan kita akan memiliki peluang baik untuk itu."

Israel membangun 6.000 rumah baru di kawasan pendudukan sejak pelantikan Presiden Trump bulan lalu. Diindikasikan, Israel tengah memanfaatkan situasi yang dilihatnya kalau miliarder AS itu lebih bersimpati kepada mereka dibanding pendahulunya, Presiden Barack Obama.

Presiden Trump juga mengharapkan Palestina memberi konsesi untuk proses perdamaian. "Tidak ada kesepakatan yang baik jika tidak baik untuk semua pihak," terangnya.

Sebelum dilantik sebagai presiden, ada tanda-tanda bahwa Trump tidak keberatan dengan pembangunan permukiman Yahudi di kawasan pendudukan. Hal ini lantas disambut baik oleh kelompok garis kanan Israel yang merasa kemenangan sudah dalam genggaman.

Bagaimanapun komentar terbaru ini menegaskan pernyataan Gedung Putih pekan lalu bahwa perluasan permukiman tidak membantu proses perdamaian Israel-Palestina. Untuk itu, pada Rabu 15 Februari 2017, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, akan terbang ke Washington untuk bertemu dengan Presiden Trump.

Lebih dari 600 ribu umat Yahudi tinggal di sekitar 140 wilayah permukiman yang dibangun sejak pendudukan Israel pada 1967 atas Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Kedua wilayah yang juga diinginkan Palestina sebagai teritori negara masa depannya.

Permukiman di kawasan pendudukan dianggap melanggar hukum internasional. Namun pemerintah Israel menolak pandangan tersebut.

(Sil)
Live Streaming
Logo
breaking news x