facebook pixel

Mobil Perdesaan Memang Perlu Campur Tangan Pemerintah

Tata Ace EX2 (Foto: Okezone)

Tata Ace EX2 (Foto: Okezone)

JAKARTA - Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI) sudah tiga tahun lalu memasarkan mobil pikap berkapasitas mesin 700 cc, Ace EX2. Mobil komersial ringan itu awalnya disiapkan untuk menyasar kalangan petani dan pemilik kebun di perdesaan. Namun ternyata Ace EX2 tak terserap dengan baik karena faktor daya beli. (Baca: Sulitnya Menjual Mobil 'Perdesaan' ke Petani)

Corporate Communication Head TMDI Kiki Fajar mengungkapkan, harga Rp64 juta untuk Ace EX2 saat pertama kali diluncurkan ternyata terlalu tinggi. Untuk bisa mencicil mobil yang diimpor utuh dari India itu, para petani perlu akses ke lembaga pembiayaan.

"Memang perlu keterlibatan pemerintah, baik pemerintah kabupaten atau kota. Perlu dibuatkan sistem bagaimana mereka bisa mendapatkan akses kredit. Mereka harus bisa diringankan kreditnya lewat lembaga pembiayaan atau kredit usaha rakyat (KUR). Kalau sudah begitu kan berarti perlu ada akses ke bank juga," kata Kiki, di Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjut dia, para petani juga perlu ada yang menungi jika sewaktu-waktu tak sanggup membayar cicilan. Hal ini karena sektor pertanian dan perkebunan tidak bisa diprediksi, seperti faktor cuaca yang tidak mendukung, sehingga bisa berimbas pada gagal panen.

"Kalau tidak sanggup bayar cicilannya perlu ada yang menalangi dulu, tapi rosedurnya memang panjang. Kalau sudah soal kredit seperti ini bisa juga berurusan dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Yang jelas memang yang namanya mobil untuk perdesaan itu perlu campur tangan pemerintah," terangnya.

Ia mencontohkan Thailand, di mana para pelaku agrobisnis di negara itu mendapat dukungan penuh. Di sana, para petani punya mobil pikap sendiri. Sehingga tak heran jika mobil-mobil komersial ringan di Thailand, seperti jenis pikap kabin ganda, sangat laku.

"Kalau di Thailand bahkan sudah pakai double cabin. Jadi hasil bumi dari remote area sekali pun bisa dijangkau," imbuhnya.

Saat ini, TMDI menggarap segmen usaha kecil menengah (UKM) untuk Ace EX2. Kalangan usaha kecil dianggap lebih mapan dalam permodalan sehingga potensi kredit macet bisa diminimalisasi.

Meski begitu, TMDI tak akan menyerah menggarap segmen perdesaan. Kiki berharap suatu saat ada jalan bagi Ace EX2 untuk populer di kalangan petani.

(ton)
​