MIKTA Puji Upaya Indonesia di Myanmar Mediasi Krisis Rohingya

Para Menlu MIKTA di sela pertemuan G20. (Foto: Twitter/dok. Kemlu RI)

Para Menlu MIKTA di sela pertemuan G20. (Foto: Twitter/dok. Kemlu RI)

BONN – Indonesia banjir pujian di Jerman. Apresiasi itu berdatangan ketika Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi menjadi pembicara utama dalam pembahasan krisis rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Perempuan pertama yang jadi Menlu RI itu memaparkan perkembangan situasi di Rakhine. Sebagaimana dia sendiri sudah mengunjungi lokasi pengungsian, bertemu dengan kedua pemerintah yang negaranya berbatasan, Myanmar dan Bangladesh.

“Indonesia menunjukkan komitmen tinggi untuk membantu Pemerintah Myanmar di Rakhine State, bekerjasama dengan berbagai macam LSM, termasuk LSM Islam dan LSM yang bergerak di bidang kemanusiaan,” tutur Menlu RI di hadapan para Menlu MIKTA di Bonn, Jerman pada Kamis 16 Februari 2017 waktu setempat.

Ia menjabarkan kepada para peserta, Myanmar sebenarnya sedang menghadapi situasi dan tantangan yang sangat kompleks. Bahkan masalahnya sudah multidimensi di Rakhine.

“Berbagai masalah dihadapi pemerintah Myanmar, seperti konflik komunal yang sudah menahun, kemiskinan, demokrasi dan protes reformasi. Reformasi sendiri masih muda sekali usianya di Myanmar. Ditambah lagi, pemerintah harus menanggulangi ancaman dari organisasi kejahatan transnasional, seperti perdagangan orang,” demikian diplomat asal Indonesia yang lama menjadi Dubes di Eropa itu menjelaskan.

Dengan semua masalah itu, Menlu Retno pun mengajak komunitas internasional membantu Myanmar. “Karena kegagalan akan berdampak negatif kepada keamanan dan stabilitas kawasan,” sambungnya.

Lebih lanjut, Menlu Retno menyampaikan bahwa Indonesia sudah memutuskan menjalin perjanjian yang konstruktif dengan Myanmar. Ia juga menguraikan langkah-langkahnya, dan hal itu memicu apresiasi tinggi dari semua Menlu MIKTA yang hadir.

MIKTA merupakan singkatan dari Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia. Organisasi informal ini berawal dari inisiatif lima negara dengan perekonomian berkembang tersebut. Pembentukannya disahkan pada 17 September 2013 dalam pertemuan ke-68 Majelis Umum PBB. Tahun ini, MIKTA diketuai oleh Turki.

(Sil)
Live Streaming
Logo
breaking news x